Relasi ekuivalen merupakan suatu hubungan antara himpunan dimana
himpunan tersebut mempunyai relasi,dan memenuhi sifat sebagai berikut :
Jika a,b dan c anggota himpunan tersebut berlaku :
1. sifat rekleksif
a~ a ,artinya jika a berelasi dengan dirinya sendiri
2. sifat simetri
a ~ b maka b~a , artinya jika a berelasi dengan b maka b juga berelasi
dengan a
3. sifat transitif
a ~b dan b~ c maka a ~ c , artinya jika a berelasi dengn b dan b berekasi
dengan c maka a juga berelasi dengan c
untuk lebih fahamnya lagi tentang apa itu relasi ekuivalen dibawah
ini ada satu contoh sekaligus penyelesaiannya tentang relasi ekuivalen.
Contoh soal :
Misalkan A adalah himpinan yang anggotanya anto,andi,yudi,ani,mila,
dan yanti.diamana anto andi dan yudi berjenis kelamin laki-laki,dan
ani,mila sama yanti berjanis kelamin perempuan.Apakah himpunan A
merupakan relasi ekuivalen ?
Penyelaesaianya :
Untuk membuktikan himpunan A merupakan relasi ekuivalen harus memenihi ke-3 sifat yaitu refleksif,simetri dan transitif
1. sifat refleksif
anto ~ anto , berelasi dengan dirinya sendiri karena jenis kelaminnya laki-laki
2. sifat simetri
anto ~ andi
andi ~ anto , anto berelasi dengan andi dan andi berelasi dengan anto karena jenis kelaminnya sama.
3. sifat transitif
mila ~ ani
ani ~ yanti
mila ~ yanti ,mila berelasi dengan ani dan ani berelasi dengan yanti maka
otomatis mila berelasi dengan yanti karena jenis kelaminnya
sama
kesimpulannya jadi himpunan A merupakan relasi ekuivalen karena
memenuhi ke-3 sifat dan sudah mempunyai relasi yaitu jenis kelamin yang
sama
Hal mudah akan terasa sulit jika yg pertama diipikirkan adalah kata SULIT. Yakinlah bahwa kita memiliki kemampuan dan kekuatan.
Rabu, 06 Juni 2012
tanggung jawab umat kristen terhadap politik
TANGGUNGJAWAB GEREJA TERHADAP POLITIK
Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah warga gereja telah bertanggungjawab dengan penuh didalam keikutsertaannya terhadap segala proses dan produk politik tersebut? Apakah kita tidak mau tahu dan peduli dengan segala hasil dan akibatnya? Atau bahkan kita malah memanfaatkannya untuk keuntungan dan kepentingan pribadi atau golongan kita?
Gereja (orang Kristen) sebenarnya harus bertanggungjawab terhadap setiap proses dan produk serta akibat dari politik. Mengapa gereja harus bertanggungjawab? Apa pula tanggungjawab gereja? Bagaimana gereja melakukan tanggungjawabnya?
Pada kenyataanya yang kita lihat, banyak yang tidak berminat untuk membicarakannya. Menganggap bahwa politik itu bukan urusan gereja, bukan urusan Pendeta, Penatua/Sintua/Lay Leader atau bukan urusan pribadi-pribadi orang Kristen. Karena selama ini ada anggapan bahwa politik itu kotor, licik. Politik itu hanya bersifat duniawi.
Pada Perang Dunia II, seorang penjahat terbesar, Adolf Hitler (yang juga adalah jemaat gereja) pernah mengatakan politik bukan urusan gereja. Hal ini terjadi ketika sebagian kecil orang Kristen di Jerman menentang kebijakan politiknya. Saat itu Hitler memanggil tokoh gereja yang bernama Neimooler. Kepada Pendeta Neimooler, Hitler berkata: “Saya mengurusi politik, anda mengurusi agama. Saya tidak akan mencampuri urusan anda dan saya minta anda tidak mencampuri urusan saya”. Pada saat itu banyak orang Kristen yang setuju dengan Hitler. Tapi akibatnya, 6 juta manusia tak bersalah menjadi korban kekejaman Hitler. Gereja merasa tidak peduli. Gereja tidak membuka suara.
Gereja saat itu berdosa bukan karena membantu atau terlibat dalam pembantaian tersebut tetapi karena diam dan tidak melakukan apa-apa ketika melihat hal dan kebijakan yang salah telah terjadi. Sampai pada saat ini banyak orang Kristen (gereja) yang setuju dengan Hitler. “Korban-korban” terus berjatuhan, kekejaman, ketidakadilan dan tindakan amoral terus terjadi tetapi gereja terlihat kurang peduli. Gereja kurang bersuara.
Memang benar bahwa misi Yesus datang ke dunia bukanlah misi politik. Tetapi mengatakn bahwa karya Yesus tidak ada sangkut-pautnya dengan politik adalah hal yang salah besar. Pelayanan Kristus adalah bersifat Holistik (menyeluruh). Tidak ada satu aspek pun dalam kehidupan yang luput dari misi-Nya, baik di dunia (termasuk politik) dan di surga (Kolose 1 : 15-20). Pemberitaan Kristus di dunia adalah untuk memberitakan tentang Kerajaan Allah. “Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Matius 4 : 17 ; 3:2). “Kerajaan” adalah istilah politik. I Petrus 2 : 9, mengatakan bahwa orang-orang percaya itu disebut “bangsa-bangsa yang terpilih”. Kata “Bangsa” juga adalah istilah politik.
Yesus lahir di kota Betlehem. Mengapa Yesus lahir di kota Betlehem? Itu terjadi karena akibat dari sensus penduduk yang ditetapkan oleh Kaisar Agustus. Dengan sensus itu, memaksa Yusuf membawa Maria yang dalam keadaan hamil tua untuk melakukan perjalanan jauh yang sangat melelahkan. Ini membuktikan bahwa sensus itu memiliki kekuatan hukum yang besar. Karena kalau tidak terpaksa tidak mungkin Yusuf bersama Maria yang dalam keadaan hampir melahirkan melakukan perjalanan tersebut. Sensus penduduk itu adalah kebijakan politik Kaisar. Sesaat setelah kelahiran Yesus, yang paling terganggu akan kelahiran-Nya adalah Raja Herodes yang merupakan seorang pemimpin politik. Dialah yang pertama kali berupaya untuk melenyapkan Yesus.
Di dalam perjalanan pelayanan Yesus, Partai kaum Parisi dan para ahli Taurat sangat terganggu pengaruh dan legitimasi mereka ditengah-tengah bangsa Israel. Mereka merasa terganggu dengan ajaran reformasi yang diajarkan dan diwartakan Yesus. Fakta lain, Yesus mati akibat disalibkan oleh keputusan Pontius Pilatus yang merupakan seorang tokoh politik. Walaupun dia tidak menemukan kesalahan Yesus tapi tidak berani melepaskan-Nya. Hal ini disebabkan karena pertimbangan dan perhitungan politik di dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan di daerah kekuasaannya. Kalau kondisi di dalam tidak kondusif maka kedudukannya dapat digeser ataupun digoyang. Mereka menyadari bahwa kehadiran Yesus mempunyai efek dan arti politik. Yesus adalah gangguan politik, karena dapat merongrong wibawa dan pengaruh otoritas politik saat itu. Ini merupakan bukti bahwa tokoh-tokoh politik diatas tanggap.
Di dalam Perjanjian Lama Tuhan berperan secara langsung terhadap situasi dan keadaan politik ditengah-tengah bangsa pilihan-Nya (Israel). Dia memilih membimbing dan memberkati Yusuf, sehingga dapat menjadi orang yang paling berkuasa setelah raja di tengah bangsa lain yaitu Mesir. Tuhan memimpin Musa untuk melepas bangsa Israel dari tangan Raja Firaun serta membimbingnya didalam memimpin perjalanan pembebasan itu. Tuhan mengurapi Saul menjadi Raja Israel walaupun akhirnya Dia tidak mendukungnya lagi. Tuhan juga memilih Raja Daud. Tuhan memilih dan memberikan kebijaksanaan kepada Raja Salomo untuk memimpin bangsa-Nya. Dan masih banyak lagi kesaksian Alkitab yang menunjukkan dan membuktikan Tuhan ada dan peduli di dalam kehidupan poltik.
Orang Kristen Indonesia juga mencatat sejarah keterlibatan orang Kristen didalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Pada jaman pergerakan telah berdiri pertai-partai poltik Kristen. Chriestelije Ethische Partij (CEP), Perserikatan Kaoem Christen (PKC), Partai Kaum Masehi Indonesia (PKMI). Partai-partai lain juga berdiri sekitar kemerdekaan yaitu PKN (Partai Kristen Nasional), PARKI (Partai Kristen Indonesia), PARKINDO (Partai Kristen Indonesia). Selain partai Kristen, kita juga mengenal tokoh-tokoh Kristen yang terlibat pada masa itu, diantaranya GSSJ Ratu Langie, TSG Moelia, A. Latumahina, I. Siagian, Mr. AA. Maramis, JK. Panggabean, J. Latuharhary, RM. Mongonsidi dan tokoh lainnya. Selain berpartisipasi dalam kemerdekaan, tokoh-tokoh dan organisasi diatas juga berperan dalam memperjuangkan bahwa orang Kristen juga mempunyai tempat yang sah, sama dan sederajat dengan pihak-pihak lainnya di dalam kehidupan Indonesia Merdeka. Keberhasilan menolak konsep yang mengharuskan Presiden Indonesia adalah orang Islam, masuk ke dalam UUD serta menolak tujuh kata yang tercantum dalan Piagam Jakarta masuk ke dalam UUD 1945. Sampai sekarang “tujuh kata” itu tidak pernah tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara kita.
Mengapa Gereja harus ikut bertanggungjawab terhadap Politik?
Didalam Matius 28 : 18 dikatakan : “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di Sorga dan di bumi”. Segala kuasa artinya tidak ada satu kuasa apapun di dunia ini yang dapat melepaskan diri dari kuasa Kristus, termasuk kuasa politik.
Kolose 1 : 20 mengatakan : “Oleh Dialah yang mempedamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik di bumi maupun yang ada di Sorga”. Atau Wahyu 21 : 5 mengatakan : “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru”. Kata “segala sesuatu” artinya tidak ada satu hal pun di dalam kehidupan manusia yang terlepas dari karya penebusan-Nya. Semua termasuk dan tercakup di dalam karya penebusan-Nya, termasuk politik.
Apakah tanggungjawab Gereja di bidang Politik?
Menurut saya, tanggungjawab gereja di bidang politik dapat ditafsirkan dalam beberapa hal:
1. Kuasa Kristus nyata di bidang politik
Artinya bahwa juga di bidang politik tidak boleh ada Tuhan lain selain Allah. Karena bahaya terbesar di bidang politik adalah penyembahan berhala, mempertahankan sesuatu yang bukan Tuhan. Ideologi bisa menjadi tuhan. Pemimpin atau tokoh kharismatis bisa menjadi tuhan, atau bangsa bisa menjadi tuhan. Kita harus berani menolak dan bertanggungjawab agar hal tersebut tidak terjadi. Semua dan apa saja termasuk itu ideologi, tokoh, pemimpin dan bangsa bukanlah tuhan. Mereka harus takluk dan tunduk di bawah Tuhan yang Satu.
2. Perdamaian Kristus diwujudnyatakan di dalam kehidupan politik
Artinya semangat jiwa kasih dan pengampunan Kristus menjadi nyata. Praktek kehidupan politik amat sering menjadi sangat kejam dan keras. Pendapat dan kepentingan yang berbeda adalah musuh dan harus di tumpas. Tidak ada kawan dan musuh abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Ini merupakan semacam paham yang berkembang di tengah-tengah kehidupan politik. Hal ini merupakan kesalahan yang besar dalam politik. Tanggungjawab Gereja adalah tanggungjawab pendamaian. Misi politik gereja adalah misi rekonsiliasi. Menggairahkan kerukunan dan solidaritas sosial tanpa memandang perbedaan golongan, suku, aliran dan keturunan.
3. Program pembaharuan Kristus harus mendasari program-program politik
Artinya setiap proses, produk ataupun kebijakan politik didasari oleh ajaran Kristus. Keberanian untuk belajar dari kesalahan masa lalu dan kesungguhan untuk merubah diri karena di dalam kehidupan biasanya terjadi keinginan untuk mengubah tetapi enggan untuk berubah. Dunia akan berubah apabila masing-masing mampu merubah diri.
Bagaimanakah tanggungjawab Gereja di bidang Politik?
Gereja harus tanggap terhadap isu, masalah, perkembangan dan gejolak yang dihadapi jemaatnya dan juga bangsa ini. Gereja harus dapat menyerukan suara kenabiannya serta memberi kontribusi dan solusi terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi manusia. Gereja harus berperan menyikapi SKB Dua Menteri tentang perizinan pendirian Rumah ibadah. Ini ditandai dengan pelarangan ibadah oleh sebahagian kelompok. Akibatnya kebebasan beribadah menjadi terganggu. Selain itu gereja juga harus peka terhadap otonomi daerah. Banyak perda-perda atau kebijakan-kebijakan penguasa daerah yang diskriminatif. Masalah lain adalah kenaikan BBM yang tidak berpihak kepada rakyat, perekonomian yang belum membaik, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang masih rendah dan belum merata, disintegrasi bangsa, korupsi, penegakan supremasi hukum, mutu pendidikan yang masih rendah dan lain sebagainya.
Di dalam Sidang Raya Dewan Gereja Dunia (DGD) tahun 1983 di Vancouver Canada, dengan diprakarsai oleh gereja-gereja negara-negara dunia ketiga timbul semacam teologia politik, bahwa “Gereja harus memihak dan membela golongan kaum miskin, lemah, yang tertindas serta kaum-kaum yang termarjinalkan”. Karena Yesus telah membuktikan hal tersebut (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes). Begitu pula pada zaman nabi-nabi (Yesaya, Amos, Yeremia dan lain-lain).
Untuk melaksanakan dan mewujudkan pandangan Gereja terhadap Pemerintah dan Pemerintahan, dilaksanakan sesuai dengan Injil (Roma 13 ; Matius 22 : 15-22). Pelaksanaan tersebut diisi dengan positif, membangun, kritis dan realistis. Anggota Gereja, tokoh gereja diharapkan lebih banyak terlibat dan ikut dalam lembaga politik, baik itu eksekutif, legislatif dan yudikatif, lembaga-lembaga publik serta kelompok-kelompok studi. Setelah hal itu terwujud, gereja harus dapat memanfaatkan anggota-anggota tersebut, dengan dapat melakukan konsultasi dan bekerjasama membahas kehidupan politik yang nyata dan sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.
Serta sebagai lembaga atau organisasi, gereja harus dapat menjadikan dirinya sebagai lembaga yang berwibawa, sehingga gereja dapat dijadikan sebagai benteng terakhir bagi jemaat didalam mencari kebenaran dan keadilan ditengah-tengah dunia ini.
Disamping penjelasan di atas ada dua catatan penting yang tidak boleh kita abaikan, yaitu:
1. Tanggungjawab penuh di dalam poltik tidak berarti kita harus menjadi lembaga-lembaga politik. Atau gereja yang dipolitisir untuk kepentingan tertentu. Orientasi seorang politikus atau tujuan akhirnya adalah kuasa. Bagi gereja yang penting bukan siapa yang memegang kuasa, tetapi bagaimana orang tersebut menjalankan kuasa. Siapapun, kalau menjalankna kuasa dengan baik harus didukung, bila buruk harus ditentang.
2. Kita hanya dapat bertanggungjawab penuh dalam politik apabila kita merasa diri sebagai bagian yang penuh dari masyarakat, bangsa dan negara. Tidak ada aspek atau hal apapun yang terlepas dari politik. Karena agama dan politik seperti “air dan beras” tidak dapat dipisahkan. Kita adalah merupakan warga Kerajaan Sorga, itu pasti. Tetapi kita hanya dapat menjadi warga Kerajaan Sorga yang baik, dengan pertama-tama menjadi warga negara yang bertanggungjawab dimana kita hidup”.
budidaya caisim hidroponik
Teknik Budidaya Sayur Caisim/Sawi Manis Secara Hidroponik
A. Media hidroponik Caisim yang baik
memiliki pH yang netral atau antara 5.5 -6.5.
Selain itu media harus porous dan
dapat mempertahankan kelembaban. Media yang digunakan dapat dibedakan menjadi
dua berdasarkan tahap pertumbuhan tanaman :
Media untuk persemaian atau pembibitan.
Media untuk persemaian atau pembibitan.
Untuk persemaian dapat digunkan
media berupa pasir halus, arang sekam atau rockwool. Pasir halus sering
digunakan karena mudah diperoleh dan harganya murah, namun kurang dapat menahan
air dan tidak terdapat nutrisi di dalamnya. Media yang biasa digunakan adalah
campuran arang sekam dan serbuk gergaji atau serbuk sabut kelapa.
Media untuk tanaman dewasa
Media untuk tanaman dewasa
Media untuk tanaman dewasa hampir
sama dengan media semai, yaitu pasir agak kasar, arang sekam, rockwool dan
lain-lain. Media yang ideal adalah arang sekam. Keuntungannya adalah kebersihan
dan sterilitas media lebih terjamin bebas dari kotoran maupun organisme yang
dapat mengganggu seperti cacing, kutu dan sebagainya yang dapt hidup dalam
pasir. Media arang sekam bersifat lebih ringan namun lebih mudah hancur,
penggunaannya hanya dapat untuk dua kali pemakaian. Arang sekam dapat dibeli di
toko-toko pertanian atau membuat sendiri.
B. Benih
B. Benih
Pemilihan benih sangat penting
karena produktivitas tanaman tergantung dari keunggulan benih yang dipilih.
Periksa label kemasan benih, yaitu tanggal kadaluarsa, persentase tumbuh dan
kemurnian benih. Pemilihan komoditas yang akan ditanam diperhitungkan
masak-masak mengenai harga dan pemasarannya. Contoh sayuran eksklusif yang
mempunyai nilai jual di atas rat-rata adalah tomat Recento, ketimun Jepang,
Melon, parika, selada, kailan, melon dan lain-lain.
C. Peralatan Budidaya Hidroponik
Caisim
Bahan dan Alat:
Bahan dan Alat:
- Bibit caisim
- Spons sesuai ukuran nampan
- Nampan plastik 2 buah (pendek dan tinggi)
- Cutter
- Pinset
- Sumpitus
- Air
- Styrofoam
D.Langkah
Kerja:
Bahan dan Alat:
1. Bibit caisim
2. Spons sesuai ukuran nampan
3. Nampan plastik 2 buah (pendek dan tinggi)
4. Cutter
5. Pinset
6. Sumpitus
7. Air
8. Styrofoam
Cara Membuat:
1. Siapkan media tanam dari spons. Potong spons selebar nampan. Lalu, potong lagi spons ukuran 1 x 1 cm, jangan sampai terputus.
2. Kotak spons ukuran 1 x 1 cm tadi dipotong kembali menjadi dua bagian, jangan sampai terputus. Posisikan spons di antara spons awal. Lakkan lagi, untuk arah yang berlawanan.
3. Celupkan spons tadi ke dalam air sampai gelembung udaranya keluar semua, sambil ditekan-tekan agar rata dengan papan. Jika spons masih berwarna putih, artinya masih ada rongga udara. Jika berwarna agak gelap, artinya air sudah terserap merata. Masukkan spons basah ke dalam nampan plastik pendek.
4. Untuk memulai menanam, basahi dulu sumpit dengan air atau rendam di dalam air.
5. Ambil bibit biji 3-4 buah dengan sumpit, tanam di dalam spons. Jangan simpan bibit terlampau dalam. Bibit harus terlihat dari luar. Simpan selama 3 hari.
6. Setelah 3 hari akan muncul daun yang masih muda. Lalu, jemur di bawah sinar matahari. Tunggu sampai seminggu agar siap ditanam.
7. Ambil styrofoam, lubangi sebanyak 9 buah, ukuran 10 x 10 cm, diameter 1 cm, sesuai ukuran batang tanaman.
8. Isi nampan plastik tinggi dengan air, jangan sampai penuh. pH air yang dipakai harus netral, gunakan air sumur (jangan air PAM). Lalu, letakkan styrofoam di dalam nampan.
9. Dengan pinset, ambil sayur yang sudah berusia seminggu tadi. Tanam ke lubang styrofoam dengan posisi sama datar. Jangan lupa dikontrol, terutama jika air habis atau ada hama. Setelah 25-30 hari sayuran bisa dipanen.
budidaya sayur bayam
I. UMUM
1.1. Sejarah Singkat
Bayam merupakan tanaman sayuran yang dikenal dengan nama ilmiah Amaranthus spp. Kata "amaranth" dalam bahasa Yunani berarti "everlasting" (abadi). Tanaman bayam berasal dari daerah Amerika tropik. Tanaman bayam semula dikenal sebagai tumbuhan hias. Dalam perkembangan selanjutnya. Tanaman bayam dipromosikan sebagai bahan pangan sumber protein, terutama untuk negara-negara berkembang. Diduga tanaman bayam masuk ke Indonesia pada abad XIX ketika lalu lintas perdagangan orang luar negeri masuk ke wilayah Indonesia.
1.2. Sentra Penanaman
Pusat penanaman bayam di Indonesia adalah Jawa Barat (4.273 hektar), Jawa Tengah (3.479 hektar), dan Jawa Timur (3.022 hektar). Propinsi lainnya berada pada kisaran luas panen antara 13.0 - 2.376 hektar. Di Indonesia total luas panen bayam mencapai 31.981 hektar atau menempati urutan ke-11 dari 18 jenis sayuran komersial yang dibudidayakan dan dihasilkan oleh Indonesia. Produk bayam nasional sebesar 72.369 ton atau rata-rata 22,63 kuintal per hektar.
1.3. Jenis Tanaman
Keluarga Amaranthaceae memiliki sekitar 60 genera, terbagi dalam sekitar 800 spesies bayam (Grubben, 1976). Dalam kenyataan di lapangan, penggolongan jenis bayam dibedakan atas 2 macam, yaitu bayam liar dan bayam budidaya. Bayam liar dikenal 2 jenis, yaitu bayam tanah (A. blitum L.) dan bayam berduri (A. spinosus L.). Ciri utama bayam liar adalah batangnya berwarna merah dan daunnya kaku (kasap).
Jenis bayam budidaya dibedakan 2 macam, yaitu:
1. Bayam cabut atau bayam sekul alias bayam putih (A. tricolor L.). Ciri - ciri bayam cabut adalah memiliki batang berwarna kemerah-merahan atau hijau keputih - putihan, dan memilki bunga yang keluar dari ketiak cabang. Bayam cabut yang batangnya merah disebut bayam merah, sedangkan yang batangnya putih disebut bayam putih.
2. Bayam tahun, bayam skop atau bayam kakap (A. hybridus L.). Ciri - ciri bayam ini adalah memiliki daun lebar - lebar, yang dibedakan atas 2 spesies yaitu:
1. A. hybridus caudatus L., memiliki daun agak panjang dengan ujung runcing, berwarna hijau kemerah - merahan atau merah tua, dan bunganya tersusun dalam rangkaian panjang terkumpul pada ujung batang.
2. A. hibridus paniculatus L., mempunyai dasar daun yang lebar sekali, berwarna hijau, rangkaian bunga panjang tersusun secara teratur dan besar - besar pada ketiak daun.
Varietas bayam unggul ada 7 macam yaitu; varietas Giri Hijau, Giti Merah, Maksi, Raja, Betawi, Skop, dan Hijau. Sedangkan beberapa varietas bayam cabut unggul adalah Cempaka 10 dan Cempaka 20.
1.4. Manfaat Tanaman
Bayam merupakan bahan sayuran daun yang bergizi tinggi dan digemari oleh semua lapisan masyarakat. Daun bayam dapat dibuat berbagai sayur mayur, bahkan disajikan sebagai hidangan mewah (elit). Di beberapa negara berkembang bayam dipromosikan sebagai sumber protein nabati, karena berfungsi ganda bagi pemenuhan kebutuhan gizi maupun pelayanan kesehatan masyarakat.
Manfaat lainnya adalah sebagai bahan obat tradisional, dan juga untuk kecantikan. Akar bayam merah dapat digunakan sebagai obat penyembuh sakit disentr. Daun dan bunga bayam duri berkhasiat untuk mengobati penyakit asma dan eksim. Bahkan sampai batas tertentu, bayam dapat mengatasi berbagai jenis penyakit dalam. Untuk tujuan pengobatan luar, bayam dapat dijadikan bahan kosmetik (kecantikan). Biji bayam digunakan untuk bahan makanan dan obat - obatan. Biji bayam dapat dimanfaatkan sebagai pencampur penyeling terigu dalam pembuatan roti atau dibuat bubur biji bayam. Ekstrak biji bayam berkhasiat sebagai obat keputihan dan pendarahan yang berlebihan pada wanita yang sedang haid.
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
1. Keadaan angin yang terlalu kencang dapat merusak tanaman bayam khususnya untuk bayam yang sudah tinggi. Kencangnya angin dapat merobohkan tanaman.
2. Karena tanaman bayam cocok ditanam di dataran tinggi maka curah hujannya juga termasuk tinggi sebagai syarat pertumbuhannya. Curah hujannya bisa mencapai lebih dari 1.500 mm / tahun.
3. Tanaman bayam memerlukan cahaya matahari penuh. Kebutuhan akan sinar matahari untuk tanaman bayam cukup besar. Pada tempat yang terlindungi (ternaungi), pertumbuhan bayam menjadi kurus dan meninggi akibat kurang mendapat sinar matahari penuh.
4. Suhu udara yang sesuai untuk tanaman bayam berkisar antara 16 - 20 derajat C.
5. Kelembaban udara yang cocok untuk tanaman bayam antara 40 - 60%.
2.2. Media Tanam
1. Tanaman bayam menghendaki tanah yang gembur dan subur. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman bayam adalah yang penting kandungan haranya terpenuhi.
2. Tanaman bayam termasuk peka terhadap pH tanah. Bila pH tanah di atas 7 (alkalis), pertumbuhan daun-daun muda (pucuk) akan memucat putih kekuning - kuningan (klorosis). Sebaliknya pada pH di bawah 6 (asam), pertumbuhan bayam akan merana akibat kekurangan beberapa unsur. Sehingga pH tanah yang cocok adalah antara 6 - 7.
3. Tanaman bayam sangat reaktif dengan ketersediaan air di dalam tanah. Bayam termasuk tanaman yang membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhannnya. Bayam yang kekurangan air akan terlihat layu dan terganggu pertumbuhannya. Penanaman bayam dianjurkan pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau.
4. Kelerengan lahan untuk budidaya tanaman bayam adalah sekitar 15 - 45 derajat.
2.3. Ketinggian Tempat
Dataran tinggi merupakan tempat yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman bayam. Ketinggian tempat yang baik yaitu ±2000 m dpl.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Benih / biji yang baik untuk bertanam bayam adalah dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) berasal dari induk yang sehat,
b) bebas dari hama / penyakit,
c) daya kecambah 80 prosen, dan
d) memiliki kemurnian benih yang tinggi.
Disamping persyaratan seperti yang disebutkan diatas, benih / bibit yang digunakan kalau bisa merupakan benih unggul agar nantinya tahan terhadap hama dan penyakit.
3.1.2. Penyiapan Benih
Benih Bayam sayur yang ditanam petani kebanyakan swadaya dari tanaman terdahulu yang sengaja dibiarkan tumbuh terus untuk produksi biji. Keperluan benih untuk lahan 1 hektar berkisar antara 5 - 10 kg, atau 0,5 - 1,0 gram per m2 luas lahan. Biji dipanen pada waktu musim kemarau dan hanya dipilih tandan yang sudah tua (masak). Tandan harus dijemur beberapa hari, kemudian biji dirontokkan dari tandan dan dipisahkan dari sisa - sisa tanaman. Untuk memproduksi bibit bagi satu hektar kebun yang berisi 25000 - 40000 tanaman, kemungkinan dibutuhkan sekitar 1 - 2 kg benih.
3.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Lahan untuk pembibitan dipilih yang lebih tinggi dari sekitarnya dan bebas dari hama dan penyakit tanaman maupun gulma. Pembibitan diberi atap plastik atau atap jerami padi. Benih bayam disebar merata atau berbaris - baris pada tanah persemaian dan ditutup dengan selapis tanah tipis.
3.1.4. Pemeliharaan Pembibitan / Penyemaian
Dalam pemeliharaan benih / bibit perlu dilakukan penyiraman dengan teratur dan hati-hati. Tanah yang digunakan juga perlu dipupuk agar kesuburannya tetap terjaga. Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk kandang. Setelah bibit tumbuh dan ada benih yang terserang hama / penyakit maka perlu disemprot dengan pestisida dengan dosis rendah.
3.1.5. Pemindahan Bibit
Setelah bibit tumbuh berumur sekitar 7 - 14 hari, bibit dipindah-tanam ke dalam pot-pot yang terbuat daun pisang atau kantong plastik es mambo yang sebelumnya telah diisi dengan medium tumbuh campuran tanah dan pupuk organik yang halus (1:1). Bibit dalam pot disiram teratur dan setelah berumur sekitar 7 - 14 hari setelah dipotkan, bibit tersebut telah siap untuk dipindah-tanam ke lapangan.
3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
Sebelum pengolahan lahan dilakukan perlu diketahui terlebih dahulu pH tanah yang sesuai yaitu antara 6 - 7 sehingga perlu dilakukan pengukuran dengan menggunakan pH-meter. Selanjutnya menganalisis tanah yang cocok untuk tanaman bayam, apakah perlu dilakukan pemupukan atau tidak. Kapan tanaman akan ditanam dan sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau. Berapa luas lahan yang akan ditanami dan akan melakukan sistem polikultur atau monokultur. Dan berapa banyak kebutuhan benih untuk dapat memenuhi produk bayam yang diinginkan.
3.2.2. Pembukaan Lahan
Lahan yang akan ditanami dicangkul / dibajak sedalam 30 - 40 cm, bongkah tanah dipecah gulma dan seluruh sisa tanaman diangkat dan disingkirkan lalu diratakan. Lahan kemudian dibiarkan selama beberapa waktu agar tanah matang benar.
3.2.3. Pembentukan Bedengan
Setelah tahap pencangkulan kemudian dibuat bedengan dengan lebar sekitar 120 cm atau 160 cm, tergantung jumlah populasi tanaman yang akan ditanam nanti. Dibuat parit antar bedengan selebar 20 - 30 cm, kedalaman 30 cm untuk drainase. Pada bedengan dibuat lubang - lubang tanam, jarak antar barisan 60-80 cm, jarak antar lubang (dalam barisan) 40-50 cm.
3.2.4. Pengapuran
Apabila pH tanah terlalu rendah maka diperlukan pengapuran untuk menaikkannya. Pengapuran dapat menggunakan kapur pertanian atau Calcit maupun Dolomit. Pada tipe tanah pasir sampai pasir berlempung yang pH-nya 5,5 diperlukan ± 988 kg kapur pertanian / ha untuk menaikkan pH menjadi 6,5. Kisaran kebutuhan kapur pertanian pada tanah lempung berpasir hingga liat berlempung ialah antara 1.730 - 4.493 kg / hektar. Sebaliknya, untuk menurunkan pH tanah, dapat digunakan tepung Belerang (S) atau Gipsum, biasa sekitar 6 ton / hektar. Cara pemberiannya, bahan - bahan tersebut disebar merata dan dicampur dengan tanah minimal sebulan sebelum tanam.
3.2.5. Pemupukan
Pemupukan awal menggunakan pupuk kandang yang telah masak. Waktu pemupukan dilakukan satu minggu atau dua minggu sebelum tanam. Cara pemupukan adalah dengan disebarkan merata diatas bedengan kemudian diaduk dengan tanah lapisan atas. Untuk pemupukan yang diberikan per lubanng tanam, cara pemberiannya dilakukan dengan memasukkan pupuk ke dalam lubang tanam. Dosis pemberian pupuk dasar disesuaikan dengan jenis tanaman dan keadaan lahan. Akan tetapi dosis untuk pupuk kandang sekitar 10 ton per hektar. Pemupukan per lubang tanam biasanya diperlukan sekitar 1 - 2 kg per lubang tanam.
3.2.6. Pemberian Mulsa
Untuk memperoleh hasil produksi yang berkualitas baik maka di dalam penanaman perlu dipasang palstik perak-hitam sebagai mulsa. Dengan penggunaan plastik ini dapat mengurangi serangan hama dan penyakit termasuk gangguan gulma dan lainnya.
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Jarak tanam untuk tanaman bayam adalah antara 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40 cm. Jarak tanam tersebut dapat divariasikan sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan jenis bayam sehingga populasi tanaman per hektar berkisar antara 30.000 - 60.000 tanaman. Pola tanam untuk bayam cabut adalah monokultur. Dalam satu hamparan lahan biasanya ditanam berbagai jenis tanaman dengan pola mosaik (perca), yaitu berbagai tanaman ditanam monokultur pada petak - petak tersendiri. Tanaman lainnya tadi antara lain seperti kakngkung (darat), selada, lobak, paria, kemangi dan sayuran lalapan lainnya.
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dapat dibuat dengan menggunakan alat kayu dengan cara di pukul-pukul sehingga membentuk lubang. Jarak antara barisan adalah 60 - 80 cm dan jarak antar lubang (antar barisan) 40 - 50 cm.
3.3.3. Cara Penanaman
Penanaman dapat langsung di lapangan tanpa penyemaian atau dengan penyemaian terlebih dahulu. Apabila tanpa penyemaian maka biji bayam dicampur abu disebarkan langsung di atas bedengan menurut barisan pada jarak antar barisan 20 cm dan arahnya membujur dari Barat ke Timur. Setelah disebarkan benih segera ditutup dengan tanah halus dan disiram hingga cukup basah. Waktu penanaman paling baik adalah pada awal musim hujan. Dengan penyemaian maka tanaman dapat tumbuh dengan lebih baik karena benih diperoleh dengan cara seleksi untuk ditanam.
3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Apabila sewaktu menyebar benih secara langsung di lapangan tidak merata maka akan terjadi pertumbuhan yang mengelompok (rapat) sehingga pertumbuhannya terhambat karena saling bersaing satu sama lain. Oleh karena itu perlu dilakukan penjarangan sekaligus sebagai panen pertama. Apabila tanaman bayam dihasilkan dari benih yang disemai maka setelah penanaman di lapangan ada yang mati / terserang penyakit, maka perlu dilakukan penyulaman dengan mengganti tanaman dengan yang baru. Caranya dengan mencabut dan apabila terserang penyakit segera dimusnahkan agar tidak menular ke tanaman lainnya. Penyulaman dapat dilakukan seminggu setelah tanam.
3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan apabila muncul gulma tanaman Gelang (Portulaca oleracea) dan rumput liar lainnya. Kehadiran gulma gelang dapat menurunkan produksi bayam antara 30 - 65%. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah. Alat yang digunakan dalam penyiangan dapat berupa cangkul kecil atau sabit. Caranya dengan dicangkul untuk mencabut gulma atau langsung dicabut dengan tangan. Disamping itu pencangkulan dilakukan untuk menggemburkan tanah.
3.4.3. Pembubunan
Proses pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.
3.4.4. Perempalan
Apabila perawakan tanaman terlalu subur, mungkin perlu dilakukan perempalan tunas - tunas liar dan pemasangan ajir / turus untuk memperkuat tegaknya tanaman agar tidak rebah.
3.4.5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk organik, untuk tiap lubang calon tanaman sekitar 0,4 - 0,8 kg. Dengan demikian kuantum pupuk organik akan berkisar 15 - 30 ton. Untuk pertanaman di dataran rendah bekas sawah, pupuk organik tidak diberikan, tinggi bedengan perlu ditambah dan dalamnya parit antar bedengan perlu diperdalam. Pupuk organik yang diberikan adalah pupuk N (Urea sekitar 250 kg / ha atau ZA 500 kg / ha) cara dilarutkan dalam air ± 25 gram / 10 liter air, TSP 300 kg / ha dan KCl 200 kg/ha. N diberikan dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan yang setengahnya lagi pada umur 30 hari setelah tanam. Apabila ternyata nanti pertumbuhan tanaman kurang subur, dapat dipertimbangkan untuk memberi pupuk N susulan dengan takaran sekitar 125 kg / ha, interval sekitar 30 hari dan dihentikan 30 hari sebelum panen. Pupuk P diberikan sekali pada waktu tanam, sedangkan pupuk K diberikan dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan setengah lagi pada umur 30 hari setelah tanam.
3.4.6. Pengairan dan Penyiraman
Pada fase awal pertumbuhan, sebaiknya penyiraman dilakukan rutin dan intensif 1 - 2 kali sehari, terutama di musim kemarau. Waktu yang paling baik untuk menyiram tanaman bayam adalah pagi atau sore hari, dengan menggunakan alat bantu gembor (emrat) agar air siramannya merata.
3.4.7. Waktu Penyemprotan Pestisida
Jenis pestisida yang digunakan untuk tanaman bayam adalah Dithane M - 45 dengan dosis 1,5 - 2 gram / liter air, Ambush 2 EC atau Lannate 2 EC dengan konsentrasi 2 gram per liter air. Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan alat penyemprot berupa tangki sprayer. Cara penyemprotan yaitu jangan dilakukan ketika angin bertiup kencang dan jangan menentang arah datangnya angin. Jangan melakukan penyemprotan pada saat akan hujan dan sebaiknya dicampurkan bahan perekat. Waktu penyemprotan dilakukan pada pagi hari benar atau sore hari ketika udara masih tenang. Hal tersebut untuk menghindari matinya lebah atau serangga lainnya yang menguntungkan.
3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
1. Serangga ulat daun (Spodoptera Plusia Hymenia)
Gejala: daun berlubang - lubang. Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.
2. Serangga kutu daun (Myzus persicae Thrips sp.)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.
3. Serangga tungau (Polyphagotarsonemus latus)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.
4. Serangga lalat (Liriomyza sp.)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.
3.5.2. Penyakit
1. Rebah kecambah
Penyebab: cendawan Phytium sp. Gejala: menginfeksi batang daun maupun batang daun. Pengendalian: Fungisida
2. Busuk basah
Penyebab: cendawan Rhizoctonia sp. Gejala: adanya bercak - bercak putih. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.
3. Karat putih
Penyebab: cendawan Choanephora sp. Gejala: menginfeksi batang daun dan daunnya. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.
3.5.3. Gulma
Jenis gulma: rumput - rumputan, alang-alang. Ciri - ciri: tumbuh mengganggu tanaman budidaya. Gejala: lahan banyak ditumbuhi pemila liar. Pencegahan: herbisida
3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur Panen
Ciri-ciri bayam cabut siap panen adalah umur tanaman antara 25 - 35 hari setelah tanam. Tinggi tanaman antara 15 - 20 cm dan belum berbunga. Waktu panen yang paling baik adalah pagi atau sore hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi.
3.6.2. Cara Panen
Cara panennya adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan memilih tanaman yang sudah optimal. Tanaman yang masih kecil diberi kesempatan untuk tumbuh membesar, sehingga panen bayam identik dengan penjarangan.
3.6.3. Periode Panen
Panen pertama dilakukan mulai umur 25 - 30 hari setelah tanam, kemudian panen berikutnya adalah 3-5 hari sekali. Tanaman yang sudah berumur 35 hari harus dipanen seluruhnya, karena bila melampaui umur tersebut kualitasnya menurun atau rendah; daun - daunnya menjadi kasar dan tanaman telah berbunga.
3.6.4. Prakiraan Produksi
Produksi bayam per hektar dapat mencapai sekitar 22.630 kg.
3.7. Pascapanen
3.7.1. Pengumpulan
Pengumpulan dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan di suatu tempat yang teduh agar tidak terkena sinar matahari langsung, karena dapat membuat daun layu.
3.7.2. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan memisahkan bayam yang busuk dan rusak dengan bayam yang baik dan segar. Disamping itu juga penggolongan terhadap bayam yang daunnya besar dan yang daunnya kecil. Setelah itu diikat besar - besar maupun langsung degan ukuran ibu jari.
3.7.3. Penyimpanan
Penyimpanan untuk menjaga kesegaran bayam dapat diperpanjang dari 12 jam tempat terbuka (suhu kamar) menjadi 12 - 14 hari dengan perlakuan suhu dingin mendekati 0 derajat C, misalnya dengan remukan es.
3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan (pewadahan) dalam telombong atau dedaunan yang digulungkan menyelimuti seluruh bagian bayam, sehingga terhindar dari pengaruh langsung sinar matahari. Pengangkutan ke pasar dengan cara dipikul maupun angkutan lainnya, seperti mobil atau gerobak.
3.7.5. Pencucian
Pencucian hasil panen pada air yang mengalir dan bersih, atau air yang disemprotkan melalui selang maupun pancuran.
3.7.6. Penanganan Lain
Bayam dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan. Sewaktu memasak bayam ialah tidak boleh terlalu lama. Bayam cukup hanya direbus selama ± 5 menit. Memasak bayam terlalu lama akan menyebabkan daun-daunnya menjadi hancur (lonyoh), rasanya tidak enak, dan kandungan vitamin C-nya menguap (menghilang).
1.1. Sejarah Singkat
Bayam merupakan tanaman sayuran yang dikenal dengan nama ilmiah Amaranthus spp. Kata "amaranth" dalam bahasa Yunani berarti "everlasting" (abadi). Tanaman bayam berasal dari daerah Amerika tropik. Tanaman bayam semula dikenal sebagai tumbuhan hias. Dalam perkembangan selanjutnya. Tanaman bayam dipromosikan sebagai bahan pangan sumber protein, terutama untuk negara-negara berkembang. Diduga tanaman bayam masuk ke Indonesia pada abad XIX ketika lalu lintas perdagangan orang luar negeri masuk ke wilayah Indonesia.
1.2. Sentra Penanaman
Pusat penanaman bayam di Indonesia adalah Jawa Barat (4.273 hektar), Jawa Tengah (3.479 hektar), dan Jawa Timur (3.022 hektar). Propinsi lainnya berada pada kisaran luas panen antara 13.0 - 2.376 hektar. Di Indonesia total luas panen bayam mencapai 31.981 hektar atau menempati urutan ke-11 dari 18 jenis sayuran komersial yang dibudidayakan dan dihasilkan oleh Indonesia. Produk bayam nasional sebesar 72.369 ton atau rata-rata 22,63 kuintal per hektar.
1.3. Jenis Tanaman
Keluarga Amaranthaceae memiliki sekitar 60 genera, terbagi dalam sekitar 800 spesies bayam (Grubben, 1976). Dalam kenyataan di lapangan, penggolongan jenis bayam dibedakan atas 2 macam, yaitu bayam liar dan bayam budidaya. Bayam liar dikenal 2 jenis, yaitu bayam tanah (A. blitum L.) dan bayam berduri (A. spinosus L.). Ciri utama bayam liar adalah batangnya berwarna merah dan daunnya kaku (kasap).
Jenis bayam budidaya dibedakan 2 macam, yaitu:
1. Bayam cabut atau bayam sekul alias bayam putih (A. tricolor L.). Ciri - ciri bayam cabut adalah memiliki batang berwarna kemerah-merahan atau hijau keputih - putihan, dan memilki bunga yang keluar dari ketiak cabang. Bayam cabut yang batangnya merah disebut bayam merah, sedangkan yang batangnya putih disebut bayam putih.
2. Bayam tahun, bayam skop atau bayam kakap (A. hybridus L.). Ciri - ciri bayam ini adalah memiliki daun lebar - lebar, yang dibedakan atas 2 spesies yaitu:
1. A. hybridus caudatus L., memiliki daun agak panjang dengan ujung runcing, berwarna hijau kemerah - merahan atau merah tua, dan bunganya tersusun dalam rangkaian panjang terkumpul pada ujung batang.
2. A. hibridus paniculatus L., mempunyai dasar daun yang lebar sekali, berwarna hijau, rangkaian bunga panjang tersusun secara teratur dan besar - besar pada ketiak daun.
Varietas bayam unggul ada 7 macam yaitu; varietas Giri Hijau, Giti Merah, Maksi, Raja, Betawi, Skop, dan Hijau. Sedangkan beberapa varietas bayam cabut unggul adalah Cempaka 10 dan Cempaka 20.
1.4. Manfaat Tanaman
Bayam merupakan bahan sayuran daun yang bergizi tinggi dan digemari oleh semua lapisan masyarakat. Daun bayam dapat dibuat berbagai sayur mayur, bahkan disajikan sebagai hidangan mewah (elit). Di beberapa negara berkembang bayam dipromosikan sebagai sumber protein nabati, karena berfungsi ganda bagi pemenuhan kebutuhan gizi maupun pelayanan kesehatan masyarakat.
Manfaat lainnya adalah sebagai bahan obat tradisional, dan juga untuk kecantikan. Akar bayam merah dapat digunakan sebagai obat penyembuh sakit disentr. Daun dan bunga bayam duri berkhasiat untuk mengobati penyakit asma dan eksim. Bahkan sampai batas tertentu, bayam dapat mengatasi berbagai jenis penyakit dalam. Untuk tujuan pengobatan luar, bayam dapat dijadikan bahan kosmetik (kecantikan). Biji bayam digunakan untuk bahan makanan dan obat - obatan. Biji bayam dapat dimanfaatkan sebagai pencampur penyeling terigu dalam pembuatan roti atau dibuat bubur biji bayam. Ekstrak biji bayam berkhasiat sebagai obat keputihan dan pendarahan yang berlebihan pada wanita yang sedang haid.
II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
1. Keadaan angin yang terlalu kencang dapat merusak tanaman bayam khususnya untuk bayam yang sudah tinggi. Kencangnya angin dapat merobohkan tanaman.
2. Karena tanaman bayam cocok ditanam di dataran tinggi maka curah hujannya juga termasuk tinggi sebagai syarat pertumbuhannya. Curah hujannya bisa mencapai lebih dari 1.500 mm / tahun.
3. Tanaman bayam memerlukan cahaya matahari penuh. Kebutuhan akan sinar matahari untuk tanaman bayam cukup besar. Pada tempat yang terlindungi (ternaungi), pertumbuhan bayam menjadi kurus dan meninggi akibat kurang mendapat sinar matahari penuh.
4. Suhu udara yang sesuai untuk tanaman bayam berkisar antara 16 - 20 derajat C.
5. Kelembaban udara yang cocok untuk tanaman bayam antara 40 - 60%.
2.2. Media Tanam
1. Tanaman bayam menghendaki tanah yang gembur dan subur. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman bayam adalah yang penting kandungan haranya terpenuhi.
2. Tanaman bayam termasuk peka terhadap pH tanah. Bila pH tanah di atas 7 (alkalis), pertumbuhan daun-daun muda (pucuk) akan memucat putih kekuning - kuningan (klorosis). Sebaliknya pada pH di bawah 6 (asam), pertumbuhan bayam akan merana akibat kekurangan beberapa unsur. Sehingga pH tanah yang cocok adalah antara 6 - 7.
3. Tanaman bayam sangat reaktif dengan ketersediaan air di dalam tanah. Bayam termasuk tanaman yang membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhannnya. Bayam yang kekurangan air akan terlihat layu dan terganggu pertumbuhannya. Penanaman bayam dianjurkan pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau.
4. Kelerengan lahan untuk budidaya tanaman bayam adalah sekitar 15 - 45 derajat.
2.3. Ketinggian Tempat
Dataran tinggi merupakan tempat yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman bayam. Ketinggian tempat yang baik yaitu ±2000 m dpl.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Persyaratan Benih
Benih / biji yang baik untuk bertanam bayam adalah dapat memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) berasal dari induk yang sehat,
b) bebas dari hama / penyakit,
c) daya kecambah 80 prosen, dan
d) memiliki kemurnian benih yang tinggi.
Disamping persyaratan seperti yang disebutkan diatas, benih / bibit yang digunakan kalau bisa merupakan benih unggul agar nantinya tahan terhadap hama dan penyakit.
3.1.2. Penyiapan Benih
Benih Bayam sayur yang ditanam petani kebanyakan swadaya dari tanaman terdahulu yang sengaja dibiarkan tumbuh terus untuk produksi biji. Keperluan benih untuk lahan 1 hektar berkisar antara 5 - 10 kg, atau 0,5 - 1,0 gram per m2 luas lahan. Biji dipanen pada waktu musim kemarau dan hanya dipilih tandan yang sudah tua (masak). Tandan harus dijemur beberapa hari, kemudian biji dirontokkan dari tandan dan dipisahkan dari sisa - sisa tanaman. Untuk memproduksi bibit bagi satu hektar kebun yang berisi 25000 - 40000 tanaman, kemungkinan dibutuhkan sekitar 1 - 2 kg benih.
3.1.3. Teknik Penyemaian Benih
Lahan untuk pembibitan dipilih yang lebih tinggi dari sekitarnya dan bebas dari hama dan penyakit tanaman maupun gulma. Pembibitan diberi atap plastik atau atap jerami padi. Benih bayam disebar merata atau berbaris - baris pada tanah persemaian dan ditutup dengan selapis tanah tipis.
3.1.4. Pemeliharaan Pembibitan / Penyemaian
Dalam pemeliharaan benih / bibit perlu dilakukan penyiraman dengan teratur dan hati-hati. Tanah yang digunakan juga perlu dipupuk agar kesuburannya tetap terjaga. Pupuk yang digunakan sebaiknya pupuk kandang. Setelah bibit tumbuh dan ada benih yang terserang hama / penyakit maka perlu disemprot dengan pestisida dengan dosis rendah.
3.1.5. Pemindahan Bibit
Setelah bibit tumbuh berumur sekitar 7 - 14 hari, bibit dipindah-tanam ke dalam pot-pot yang terbuat daun pisang atau kantong plastik es mambo yang sebelumnya telah diisi dengan medium tumbuh campuran tanah dan pupuk organik yang halus (1:1). Bibit dalam pot disiram teratur dan setelah berumur sekitar 7 - 14 hari setelah dipotkan, bibit tersebut telah siap untuk dipindah-tanam ke lapangan.
3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Persiapan
Sebelum pengolahan lahan dilakukan perlu diketahui terlebih dahulu pH tanah yang sesuai yaitu antara 6 - 7 sehingga perlu dilakukan pengukuran dengan menggunakan pH-meter. Selanjutnya menganalisis tanah yang cocok untuk tanaman bayam, apakah perlu dilakukan pemupukan atau tidak. Kapan tanaman akan ditanam dan sebaiknya pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau. Berapa luas lahan yang akan ditanami dan akan melakukan sistem polikultur atau monokultur. Dan berapa banyak kebutuhan benih untuk dapat memenuhi produk bayam yang diinginkan.
3.2.2. Pembukaan Lahan
Lahan yang akan ditanami dicangkul / dibajak sedalam 30 - 40 cm, bongkah tanah dipecah gulma dan seluruh sisa tanaman diangkat dan disingkirkan lalu diratakan. Lahan kemudian dibiarkan selama beberapa waktu agar tanah matang benar.
3.2.3. Pembentukan Bedengan
Setelah tahap pencangkulan kemudian dibuat bedengan dengan lebar sekitar 120 cm atau 160 cm, tergantung jumlah populasi tanaman yang akan ditanam nanti. Dibuat parit antar bedengan selebar 20 - 30 cm, kedalaman 30 cm untuk drainase. Pada bedengan dibuat lubang - lubang tanam, jarak antar barisan 60-80 cm, jarak antar lubang (dalam barisan) 40-50 cm.
3.2.4. Pengapuran
Apabila pH tanah terlalu rendah maka diperlukan pengapuran untuk menaikkannya. Pengapuran dapat menggunakan kapur pertanian atau Calcit maupun Dolomit. Pada tipe tanah pasir sampai pasir berlempung yang pH-nya 5,5 diperlukan ± 988 kg kapur pertanian / ha untuk menaikkan pH menjadi 6,5. Kisaran kebutuhan kapur pertanian pada tanah lempung berpasir hingga liat berlempung ialah antara 1.730 - 4.493 kg / hektar. Sebaliknya, untuk menurunkan pH tanah, dapat digunakan tepung Belerang (S) atau Gipsum, biasa sekitar 6 ton / hektar. Cara pemberiannya, bahan - bahan tersebut disebar merata dan dicampur dengan tanah minimal sebulan sebelum tanam.
3.2.5. Pemupukan
Pemupukan awal menggunakan pupuk kandang yang telah masak. Waktu pemupukan dilakukan satu minggu atau dua minggu sebelum tanam. Cara pemupukan adalah dengan disebarkan merata diatas bedengan kemudian diaduk dengan tanah lapisan atas. Untuk pemupukan yang diberikan per lubanng tanam, cara pemberiannya dilakukan dengan memasukkan pupuk ke dalam lubang tanam. Dosis pemberian pupuk dasar disesuaikan dengan jenis tanaman dan keadaan lahan. Akan tetapi dosis untuk pupuk kandang sekitar 10 ton per hektar. Pemupukan per lubang tanam biasanya diperlukan sekitar 1 - 2 kg per lubang tanam.
3.2.6. Pemberian Mulsa
Untuk memperoleh hasil produksi yang berkualitas baik maka di dalam penanaman perlu dipasang palstik perak-hitam sebagai mulsa. Dengan penggunaan plastik ini dapat mengurangi serangan hama dan penyakit termasuk gangguan gulma dan lainnya.
3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Penentuan Pola Tanam
Jarak tanam untuk tanaman bayam adalah antara 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40 cm. Jarak tanam tersebut dapat divariasikan sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan jenis bayam sehingga populasi tanaman per hektar berkisar antara 30.000 - 60.000 tanaman. Pola tanam untuk bayam cabut adalah monokultur. Dalam satu hamparan lahan biasanya ditanam berbagai jenis tanaman dengan pola mosaik (perca), yaitu berbagai tanaman ditanam monokultur pada petak - petak tersendiri. Tanaman lainnya tadi antara lain seperti kakngkung (darat), selada, lobak, paria, kemangi dan sayuran lalapan lainnya.
3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dapat dibuat dengan menggunakan alat kayu dengan cara di pukul-pukul sehingga membentuk lubang. Jarak antara barisan adalah 60 - 80 cm dan jarak antar lubang (antar barisan) 40 - 50 cm.
3.3.3. Cara Penanaman
Penanaman dapat langsung di lapangan tanpa penyemaian atau dengan penyemaian terlebih dahulu. Apabila tanpa penyemaian maka biji bayam dicampur abu disebarkan langsung di atas bedengan menurut barisan pada jarak antar barisan 20 cm dan arahnya membujur dari Barat ke Timur. Setelah disebarkan benih segera ditutup dengan tanah halus dan disiram hingga cukup basah. Waktu penanaman paling baik adalah pada awal musim hujan. Dengan penyemaian maka tanaman dapat tumbuh dengan lebih baik karena benih diperoleh dengan cara seleksi untuk ditanam.
3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman
Apabila sewaktu menyebar benih secara langsung di lapangan tidak merata maka akan terjadi pertumbuhan yang mengelompok (rapat) sehingga pertumbuhannya terhambat karena saling bersaing satu sama lain. Oleh karena itu perlu dilakukan penjarangan sekaligus sebagai panen pertama. Apabila tanaman bayam dihasilkan dari benih yang disemai maka setelah penanaman di lapangan ada yang mati / terserang penyakit, maka perlu dilakukan penyulaman dengan mengganti tanaman dengan yang baru. Caranya dengan mencabut dan apabila terserang penyakit segera dimusnahkan agar tidak menular ke tanaman lainnya. Penyulaman dapat dilakukan seminggu setelah tanam.
3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan apabila muncul gulma tanaman Gelang (Portulaca oleracea) dan rumput liar lainnya. Kehadiran gulma gelang dapat menurunkan produksi bayam antara 30 - 65%. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah. Alat yang digunakan dalam penyiangan dapat berupa cangkul kecil atau sabit. Caranya dengan dicangkul untuk mencabut gulma atau langsung dicabut dengan tangan. Disamping itu pencangkulan dilakukan untuk menggemburkan tanah.
3.4.3. Pembubunan
Proses pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.
3.4.4. Perempalan
Apabila perawakan tanaman terlalu subur, mungkin perlu dilakukan perempalan tunas - tunas liar dan pemasangan ajir / turus untuk memperkuat tegaknya tanaman agar tidak rebah.
3.4.5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk organik, untuk tiap lubang calon tanaman sekitar 0,4 - 0,8 kg. Dengan demikian kuantum pupuk organik akan berkisar 15 - 30 ton. Untuk pertanaman di dataran rendah bekas sawah, pupuk organik tidak diberikan, tinggi bedengan perlu ditambah dan dalamnya parit antar bedengan perlu diperdalam. Pupuk organik yang diberikan adalah pupuk N (Urea sekitar 250 kg / ha atau ZA 500 kg / ha) cara dilarutkan dalam air ± 25 gram / 10 liter air, TSP 300 kg / ha dan KCl 200 kg/ha. N diberikan dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan yang setengahnya lagi pada umur 30 hari setelah tanam. Apabila ternyata nanti pertumbuhan tanaman kurang subur, dapat dipertimbangkan untuk memberi pupuk N susulan dengan takaran sekitar 125 kg / ha, interval sekitar 30 hari dan dihentikan 30 hari sebelum panen. Pupuk P diberikan sekali pada waktu tanam, sedangkan pupuk K diberikan dua kali, setengah takaran pada waktu tanam dan setengah lagi pada umur 30 hari setelah tanam.
3.4.6. Pengairan dan Penyiraman
Pada fase awal pertumbuhan, sebaiknya penyiraman dilakukan rutin dan intensif 1 - 2 kali sehari, terutama di musim kemarau. Waktu yang paling baik untuk menyiram tanaman bayam adalah pagi atau sore hari, dengan menggunakan alat bantu gembor (emrat) agar air siramannya merata.
3.4.7. Waktu Penyemprotan Pestisida
Jenis pestisida yang digunakan untuk tanaman bayam adalah Dithane M - 45 dengan dosis 1,5 - 2 gram / liter air, Ambush 2 EC atau Lannate 2 EC dengan konsentrasi 2 gram per liter air. Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan alat penyemprot berupa tangki sprayer. Cara penyemprotan yaitu jangan dilakukan ketika angin bertiup kencang dan jangan menentang arah datangnya angin. Jangan melakukan penyemprotan pada saat akan hujan dan sebaiknya dicampurkan bahan perekat. Waktu penyemprotan dilakukan pada pagi hari benar atau sore hari ketika udara masih tenang. Hal tersebut untuk menghindari matinya lebah atau serangga lainnya yang menguntungkan.
3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
1. Serangga ulat daun (Spodoptera Plusia Hymenia)
Gejala: daun berlubang - lubang. Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.
2. Serangga kutu daun (Myzus persicae Thrips sp.)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.
3. Serangga tungau (Polyphagotarsonemus latus)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.
4. Serangga lalat (Liriomyza sp.)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan tanaman.
3.5.2. Penyakit
1. Rebah kecambah
Penyebab: cendawan Phytium sp. Gejala: menginfeksi batang daun maupun batang daun. Pengendalian: Fungisida
2. Busuk basah
Penyebab: cendawan Rhizoctonia sp. Gejala: adanya bercak - bercak putih. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.
3. Karat putih
Penyebab: cendawan Choanephora sp. Gejala: menginfeksi batang daun dan daunnya. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.
3.5.3. Gulma
Jenis gulma: rumput - rumputan, alang-alang. Ciri - ciri: tumbuh mengganggu tanaman budidaya. Gejala: lahan banyak ditumbuhi pemila liar. Pencegahan: herbisida
3.6. Panen
3.6.1. Ciri dan Umur Panen
Ciri-ciri bayam cabut siap panen adalah umur tanaman antara 25 - 35 hari setelah tanam. Tinggi tanaman antara 15 - 20 cm dan belum berbunga. Waktu panen yang paling baik adalah pagi atau sore hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi.
3.6.2. Cara Panen
Cara panennya adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan memilih tanaman yang sudah optimal. Tanaman yang masih kecil diberi kesempatan untuk tumbuh membesar, sehingga panen bayam identik dengan penjarangan.
3.6.3. Periode Panen
Panen pertama dilakukan mulai umur 25 - 30 hari setelah tanam, kemudian panen berikutnya adalah 3-5 hari sekali. Tanaman yang sudah berumur 35 hari harus dipanen seluruhnya, karena bila melampaui umur tersebut kualitasnya menurun atau rendah; daun - daunnya menjadi kasar dan tanaman telah berbunga.
3.6.4. Prakiraan Produksi
Produksi bayam per hektar dapat mencapai sekitar 22.630 kg.
3.7. Pascapanen
3.7.1. Pengumpulan
Pengumpulan dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan di suatu tempat yang teduh agar tidak terkena sinar matahari langsung, karena dapat membuat daun layu.
3.7.2. Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan memisahkan bayam yang busuk dan rusak dengan bayam yang baik dan segar. Disamping itu juga penggolongan terhadap bayam yang daunnya besar dan yang daunnya kecil. Setelah itu diikat besar - besar maupun langsung degan ukuran ibu jari.
3.7.3. Penyimpanan
Penyimpanan untuk menjaga kesegaran bayam dapat diperpanjang dari 12 jam tempat terbuka (suhu kamar) menjadi 12 - 14 hari dengan perlakuan suhu dingin mendekati 0 derajat C, misalnya dengan remukan es.
3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan (pewadahan) dalam telombong atau dedaunan yang digulungkan menyelimuti seluruh bagian bayam, sehingga terhindar dari pengaruh langsung sinar matahari. Pengangkutan ke pasar dengan cara dipikul maupun angkutan lainnya, seperti mobil atau gerobak.
3.7.5. Pencucian
Pencucian hasil panen pada air yang mengalir dan bersih, atau air yang disemprotkan melalui selang maupun pancuran.
3.7.6. Penanganan Lain
Bayam dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan. Sewaktu memasak bayam ialah tidak boleh terlalu lama. Bayam cukup hanya direbus selama ± 5 menit. Memasak bayam terlalu lama akan menyebabkan daun-daunnya menjadi hancur (lonyoh), rasanya tidak enak, dan kandungan vitamin C-nya menguap (menghilang).
Sabtu, 26 Mei 2012
laporan akhir praktikum mekanisasi pertanian
LAPORAN PRAKTIKUM
MEKANISASI PERTANIAN
Disusun oleh:
ARI LUBERIUS
1006134195

LABORATORIUM
TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
RIAU
PEKANBARU
2012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan
Karunia nya lah sehingga kita masih diberikan nikmat berupa kesehatan dan
kesempatan khususnya kepada penulis pribadi, sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan praktikum Mekanisasi Pertanian ini, Semoga apa yang
diberikan dapat berguna dalam menentukan penulis ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi nanti.
Di
samping itu juga, penulis menyadari dengan sepenuh hati bahwa dalam penulisan
laporan praktikum ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan
kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan laporan –
laporan praktikum kedepannya.
Akhir
kata, penulis mohon maaf apabila ada kata – kata yang tak berkenang hati.
Karena seperti kata pepatah: ‘’ tak ada gading yang tak retak, tak ada mawar
yang tak berduri, dan tak ada manusia yang tak luput dari kesalahan’’.
Harapannya, semoga dengan adanya laporan ini dapat bermanfaaat bagi semua
orang, terutama penulis. Sekian dan terima kasih.
Pekanbaru,
April 2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR GAMBAR................................................................................................ ii
DAFTAR TABEL..................................................................................................... iii
DAFTAR NOTASI................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2 Tujuan Praktikum..................................................................................... 1
1.3 Manfaat Praktikum.................................................................................. 2
BAB II TEORI DASAR
2.1
Defenisi Traktor Roda dua...................................................................... 3
2.1.1 Ukuran Traktor dua
roda menurut Kapasitas........................... 4
2.1.2 Jenis Pekerjaan
Yang Dilakukan Traktor Dua Roda................ 4
2.1.3 Komponen Utama
Traktor Dua Roda...................................... 5
2.1.4 Jenis-Jenis Alat
Bantu Pada Taktor Dua Roda......................... 6
2.2 Defenisi Traktor Empat Roda.................................................................. 9
2.2.1 Ukuran Traktor
Empat Roda Menurut Kapasitas..................... 9
2.2.2 Jenis Pekerjaan
Yang Dilakukan Traktor Empat Roda............. 10
2.2.3 Komponen Utama
Traktor Empat Roda................................... 11
2.2.4 Jenis-Jenis Alat
Bantu Pada Traktor Empat Roda.................... 11
2.3 Motor Bakar............................................................................................ 15
2.3.1 Motor 2 Tak.............................................................................. 15
2.3.2 Motor 4 Tak.............................................................................. 16
2.3.3 Motor Diesel............................................................................. 17
2.3.4 Motor Bensin............................................................................ 18
2.4
Oil Pelumas.............................................................................................. 19
2.5
Maintanance/Perawatan Traktor Roda 2 dan roda 4............................... 20
2.6
Macam-Macam Pola Bajak...................................................................... 22
2.7
Elemen Dasar Traktor.............................................................................. 24
2.8 Defenisi Alat Penyemprot....................................................................... 25
2.8.1 Jenis-Jenis Alat
Penyemprot..................................................... 27
2.8.2 Jenis-Jenis Nozel
dan Kegunaannya......................................... 29
BAB III Alat dan Bahan
3.1 Alat............................................................................................................ 31
3.1.1 Bajak Singkal............................................................................ 31
3.1.2 Bajak Rotary............................................................................. 32
3.1.3 Stopwatch................................................................................. 34
3.1.4 Meteran..................................................................................... 35
3.1.5 Gelas Ukur................................................................................ 35
3.1.6 Cangkul..................................................................................... 36
3.1.7 Patok......................................................................................... 36
3.1.8 Lahan........................................................................................ 36
3.2
Bahan......................................................................................................... 37
3.2.1 Varietas Tanaman
Semangka.................................................... 37
3.2.2 Pupuk Kandang........................................................................ 37
3.2.3 Pupuk NPK............................................................................... 37
BAB IV Prosedur Kerja
4.1
Prosedur Umum........................................................................................ 38
4.1.1 Cara Menghidupkan
Traktor 2 Roda........................................ 38
4.1.2 Cara Menghidupkan
Traktor 4 Roda........................................ 39
4.1.3 Cara Mematikan
Traktor 2 Roda.............................................. 39
4.1.4 Cara Mematikan Traktor
4 Roda.............................................. 40
4.1.5 Cara
Mengoperasikan Traktor 2 Roda...................................... 40
4.1.6 Cara
Mengoperasikan Traktor 4 Roda...................................... 41
4.2
Proses Bajak Singkal Traktor 2 Roda...................................................... 43
4.2.1 Proses Bajak Rotary
Traktor 2 Roda........................................ 43
4.3
Proses Bajak Singkal Traktor 4 Roda...................................................... 44
4.4
Proses Pembuatan Bedengan................................................................... 44
4.5
Penanaman Jagung................................................................................... 44
BAB V Hasil dan Pembahasan
5.1
Traktor 2 Roda......................................................................................... 45
5.1.1 Kapasitas
Lapangan Teoritis (KLT).......................................... 45
5.1.2 Kapasitas
Lapangan Efektif (KLE).......................................... 46
5.1.3 Efisiensi
Lapangan (%)............................................................. 46
5.1.4 Bahan Bakar
Terpakai (L/Ha)................................................... 46
5.1.5 Slip Roda Traksi
(%)................................................................. 47
5.2
Traktor 4 Roda......................................................................................... 50
5.2.1 Kapasitas
Lapangan Teoritis (KLT).......................................... 50
5.2.2 Kapasitas
Lapangan Efektif (KLE).......................................... 50
5.2.3 Efisiensi
Lapangan (%)............................................................. 50
5.2.4 Bahan Bakar Terpakai (%)........................................................ 51
5.3
Penanaman Komoditi Jagung.................................................................. 51
BAB VI PENUTUP
6.1
Kesimpulan.............................................................................................. 54
6.2
Saran........................................................................................................ 54
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan zaman dengan
meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dampak yang luar biasa
terhadap kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk
berfikir akan selalu mengembangkan sesuatu hal agar menjadikan kehidupannya
menjadi lebih baik. Oleh karena itu, proses perubahan akan terus berjalan.
Penggunaan alat dan mesin
pertanian sudah sejak lama digunakan dan perkembangannya mengikuti dengan
perkembangan kebudayaan manusia. Pada awalnya alat dan mesin pertanian masih
sederhana dan terbuat dari batu atau kayu kemudian berkembang menjadi bahan
logam. Susunan alat ini mula-mula sederhana, kemudian sampai ditemukannya alat
mesin pertanian yang komplek. Dengan dikembangkannya pemanfaatan sumber daya
alam dengan motor secara langsung mempengaruhi perkembangan dari alat mesin
pertanian.
Sesuai dengan defenisi dari
mekanisasi pertanian (agriculture mechanization), maka penggunaan alat
mekanisasi pertanian adalah untuk meningkatkan daya kerja manusia dalam proses
produksi pertanian dan dalam setiap tahapan dari proses produksi tersebut
selalu memerlukan alat mesin pertanian.
Setiap perubahan usaha tani
melalui mekanisasi didasari tujuan tertentu yang membuat perubahan tersebut
bisa dimengerti, logis, dan dapat diterima. Diharapkan perubahan suatu sistem
akan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan dan sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan. Secara umum, tujuan mekanisasi pertanian adalah :
a. mengurangi kejerihan kerja dan meningkatkan efisiensi tenaga manusia
b. mengurangi kerusakan produksi pertanian
c. menurunkan ongkos produksi
d. menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas produksi
e. meningkatkan taraf hidup petani
f. memungkinkan pertumbuhan ekonomi subsisten (tipe pertanian kebutuhan
keluarga) menjadi tipe pertanian komersil (comercial farming)
1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan agar kita dapat
·
Mengetahui
jenis-jenis alat dan mesin pertanian
·
Dapat
mengoprasikan alat dan mesin pertanian dengan baik dan benar
·
Dapat
menghitung efektifitas penggunaan peralatan dan mesin pertanian
·
Dapat
melakukan cara budidaya tanaman jagung
1.3 Manfaat
- Agar mahasiswa mengenal jenis-jenis alat dan mesin pertanian,
Traktor roda dua maupun traktor roda
empat
- Agar mahasiswa mampu mengoperasikan alat maupun mesin pertanian denan baik,aman dan benar
- Agar mahasiswa dapat menghitung efektifitas penggunaan peralatan dan mesin pertanian
- Agar mahasiswa Dapat melakukan cara budidaya tanaman jagung
BAB 2
TEORI DASAR
2.1
Defenisi Traktor Dua Roda
Traktor roda-2 merupakan alat
pengolah tanah utama saat ini. Hal ini mengingat ternak kerja sudah sangat
berkurang. Sekarang memelihara ternak kerbau/sapi untuk digemukkan ataupun
diperah susunya. Traktor roda-2 ini digunakan untuk
mengolah tanah sehingga siap
Untuk ditanami.Traktor
roda dua dilihat dari penghubungan dengan perlengkapannya terdiri dari dua tipe
yaitu tipe hitch (gambar traktor roda-2
diatas) dan tipe rotary (gambar disamping) Pada tipe rotary apabila unit
rotarynya dilepas maka dapat dipasangi hitch untuk menarik peralatan. Peralatan
yang dapat dipasang pada hitch adalah bajak singkal, bajak parabola, garu,
gelebek, ridger.
Bajak singkal dan bajak parabola berfungsi untuk memotong,
membalikkan, pemecahan tanah serta pembenaman sisa-sisa tanaman kedalam tanah,
dan digunakan untuk tahapan kegiatan pengolahan tanah pertama. Garu berfungsi
untuk menghacurkan bongkahan-bongkahan tanah hasil pembajakan. Sedangkan
gelebeg berfungsi untuk meratakan lahan setelah dilakukan penggaruan.
Untuk pengolahan lahan dengan rotary, tanah dibalik,
dihancurkan/dicacah oleh pisau-pisau rotary. Dengan rotary dihasilkan lahan
yang siap tanam.

Gambar 1. Traktor roda dua
Keterangan gambar:
1)
Lamp
2) Engine
3) Clutch
4) Gearbox
5) Handlebar
6) Speed-changing
7) Clutch-brake handle
8) Throttle control handle
9) Steering hand grip
10) Traction adapter
11) Driving wheel
12) Frame
2) Engine
3) Clutch
4) Gearbox
5) Handlebar
6) Speed-changing
7) Clutch-brake handle
8) Throttle control handle
9) Steering hand grip
10) Traction adapter
11) Driving wheel
12) Frame
2.1.1 Ukuran Traktor Dua Roda Menurut
Kapasitas
Berdasarkan besarnya daya motor, traktor tangan
dapat dibagi
menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Traktor tangan berukuran kecil, tenaga penggeraknya kurang dari
5 hp.
2. Traktor tangan berukuran sedang, tenaga penggeraknya antara 5 -
7 hp.
3. Traktor tangan berukuran besar, tenaga penggeraknya antara 7–12
hp.
2.1.2 Jenis Pekerjaan Yang Bisa
Dilakukan Traktor Dua Roda
Jenis pekerjaan yang bisa dilakukan oleh traktor
roda dua atau traktor tangan ini adalah dapat mengolah tanah yang gembur dan
dengan kelembaban tertentu, dan disesuaikan dengan kekuatan traktor tersebut.
Oleh karena itu traktor roda duaini dapat dioperasikan pada lahan yang lembab
atau basah dan tidak terlalau kering
2.1.2 Komponen Utama
Traktor Dua Roda
Bagian-bagian utama traktor tangan dapat dikelompokkan menjadi 3
kelompok, yaitu:
- Tenaga penggerak motor.
- Kerangka dan transmisi (penerus tenaga).
- Tuas kendali.
1. Tenaga penggerak
motor.
Jenis tenaga penggerak
yang sering dipakai adalah motor diesel, tetapi ada juga yang menggunakan motor
bensin atau minyak tanah (kerosin). Daya yang dihasilkan kurang dari 12 Hp,
dengan menggunakan satu silinder. Motor penggerak dipasang pada kerangka dengan
empat buah baut pengencang. Lubang baut pada kerangka dibuat memanjang agar
posisi motor dapat digerakkan maju mundur. Tujuannya untuk memperoleh
keseimbangan traktor dan untuk menyesuaikan ukuran v-belt yang digunakan.
Traktor akan lebih berat ke depan apabila posisi motor digeser maju, begitu
juga sebaliknya. Untuk menghidupkan motor diesel digunakan engkol, sedangkan
untuk motor bensin dan minyak tanah
menggunakan tali starter.
Sebagian besar traktor
menggunakan motor diesel. Penggunaan motordiesel umumnya lebih murah baik pada
saat pengoperasiannya maupun perawatannya. Motor diesel lebih awet dibanding
motor jenis lain, asal
perawatannya dilakukan dengan baik dan benar sejak awal.
2. Kerangka dan
transmisi (penerus tenaga)
Kerangka berfungsi
sebagai tempat kedudukan motor penggerak, transmisi dan bagian traktor lainnya.
Bagian traktor dikaitkan dengan kerangka dengan menggunakan beberapa buah baut
pengencang. Transmisi berfungsi memindahkan tenaga/putaran dari motor
penggerak ke alat lain yang bergerak. Jenis transmisi yang digunakan ada
beberapa macam, seperti : pully, belt, kopling, gigi persneleng, rantai dan
sebagainya. Tenaga dari motor berupa putaran poros disalurkan melalui pully dan
vbelt ke kopling utama. Kopling utama meneruskan tenaga tersebut ke gigi
persneleng untuk menggerakkan poros roda dan poros PTO. Selain untuk
menyalurkan tenaga, gigi persneleng juga berfungsi sebagai pengatur kecepatan
putaran poros roda dan poros PTO. Dari PTO tenaga dasalurkan lewat gigi dan
rantai ke mesin rotary.
Kopling utama dioperasikan dari tuas kopling
utama. Bila tuas ditarik ke posisi netral, maka tenaga motor tidak disalurkan
ke gigi persneleng. Akibatnya traktor akan berhenti, meskipun kondisi motor
penggerak dihidupkan.
Di samping kopling
utama, ada dua kopling kemudi. Kopling kemudi terletak di bawah gigi
persneleng, di pangkal poros kedua roda. Kopling kemudi dioperasikan melalui
tuas kemudi kanan dan kiri. Apabila kopling kemudi kanan ditekan, maka putaran
gigi persneleng tidak tersambung dengan poros roda kanan. Sehingga roda kanan
akan berhenti, dan traktor akan berbelok ke kiri. Begitu juga sebaliknya
apabila kopling kiri ditekan.
Sebuah traktor tangan dapat bergerak maju-mundur
dengan kecepatan tertentu karena putaran poros motor penggerak disalurkan
sampai ke roda. Ada tiga jenis roda yang digunakan pada traktor tangan, yaitu;
roda ban, roda besi, roda apung (roda sangkar/cage wheell). Roda ban berfungsi
untuk transportasi.dan mengolah tanah kering. Bentuk permukaan roda ban beralur
agak dalam untuk mencegah slip. Roda ban dapat meredam getaran, sehingga tidak
merusak jalan. Roda besi digunakan untuk pembajakan di lahan kering. Sirip pada
roda besi akan menancap ke tanah, sehingga akan mengurangi terjadinya slip pada
saat menarik beban berat. Roda apung digunakan pada saat pengolahan tanah
basah. Roda apung ini ada yang lebar, ada juga yang diameternya besar, sehingga
dapat menahan beban traktor agar tidak tenggelam dalam lumpur. Ukuran roda
disesuaikan dengan spesifikasi traktor. Besar kecilnya roda akan berpengaruh
terhadap lajunya traktor.
Setiap traktor tangan biasanya dilengkapi dengan
standar depan dan standar samping. Standar samping khusus digunakan untuk
pemasangan roda. Pemasangan roda dilakukan satu persatu. Pelepasan roda dari
poros dilakukan dengan cara melepas mur-baut dan atau pena penyambung.
Setelah roda dilepas, baru dipasang roda pengganti yang sesuai. Pemasangan roda
ini tidak boleh terbalik. Untuk roda ban, pada sisi atas ban, arah panah harus
ke depan. Untuk roda besi, sisi roda bawah harus menancap ke tanah. Untuk roda
apung, sisi roda bawah tidak boleh menancap ke tanah. Sehingga pemasangan roda
tidak boleh terbalik antara roda kiri dan kanan.
Poros roda traktor biasanya cukup panjang dan
dilengkapi dengan beberapa lubang. Poros yang panjang ini dimaksudkan untuk
menyesuaikan lebar olah implemen. Pemasangan roda yang cukup lebar juga akan
menjaga keseimbangan traktor, terutama apabila digunakan pada lahan yang
miring. Sedang lubang yang ada di poros digunakan untuk tempat pena,
sehingga menjamin roda tidak akan slip atau lepas pada saat pengoperasian.
3.
Tuas
kendali/kontrol
Tuas kendali adalah
tuas-tuas yang digunakan untuk mengendalikan jalannya traktor. Untuk
mempermudah jalannya operasional, traktor tangan ada banyak tuas kendali. Namun
begitu banyaknya tuas kendali ini akan mengakibatkan traktor menjadi lebih
berat, dan harganya lebih mahal. Untuk itu sekarang banyak diproduksi traktor
yang hanya dilengkapi dengan beberap tuas kendali. Tujuannya agar traktor
menjadi ringan, dan harganya menjadi lebih murah. Meskipun kemampuan traktor
menjadi terbatas.
Tuas
kendali yang sering ada pada traktor tangan adalah sebagai berikut:
- Tuas persneleng utama
Tuas persneleng utama
berfungsi untuk memindah susunan gigi pada persneleng, sehingga perbandingan
kecepatan putar poros motor penggerak dan poros roda dapat diatur.Traktor
tangan yang lengkap biasanya mempunyai 6 kecepatan maju dan 2 kecepatan mundur.
Kecepatan ini dapat dipilih sesuai dengan jenis pekerjaan yang sedang
dilaksanakan. Sebagai patokan awal dapat digunakan sebagai berikut:
·
Kecepatan satu untuk membajak tanah dengan mesin
rotary
·
Kecepatan dua untuk membajak tanah dengan bajak
singkal/piringan
·
Kecepatan tiga untuk membajak tanah sawah yang
tergenang
·
Kecepatan empat untuk berjalan di jalan biasa
·
Kecepatan lima dan enam untuk menarik
trailer/gerobak
·
Mundur satu digunakan pada saat operator
berjalan
·
Mundur dua digunakan pada saat operator naik di
trailer/gerobak
- Tuas persneleng cepat lambat
Tuas ini tidak selalu
ada. Apabila tuas persneleng utama hanya terdiri dari 3 kecepatan maju dan 1
kecepatan mundur, biasanya traktor tangan dilengkapi dengan tuas persneleng
cepat lambat. Fungsi perneleng ini untuk memisahkan antara pekerjaan mengolah
tanah dengan pekerjaan transportasi (berjalan dan menarik trailer/gerobak).
- Tuas kopling utama
Tuas kopling utama
berfungsi untuk mengoperasikan kopling utama. Bila tuas dilepas pada posisi
pasang/ON, maka tenaga motor akan tersambung ke gigi persneleng. Sebaliknya
apabila ditarik ke posisi netral/bebas/OFF, maka tenaga motor tidak
disalurkan ke gigi persneleng. Apabila ditarik lagi maka tuas kopling
utama akan tersambung dengan rem yang berada pada rumah kopling utama.
- Tuas persneleng mesin rotary
Tuas persneleng mesin
rotary berfungsi sebagai pengatur kecepatan putar poros PTO. Biasanya ada dua
macam kecepatan dan satu netral. Apabila hasil pengolahan yang diharapkan halus
dan gembur, maka tempatkan posisi tuas persneleng mesin rotary pada posisi
cepat. Begitu juga sebaliknya. (Kecepatan putar pisau rotary dapat juga diatur
dari posisi pemasangan rantai penghubung)
- Tuas persneleng kemudi
Ada dua buah tuas kopling kemudi pada setiap
traktor tangan, masing-masing ada di sebelah kanan dan kiri. Tuas ini digunakan
untuk mengoperasikan kopling kemudi (kanan dan kiri). Apabila tuas kopling
kemudi kanan ditekan, maka putaran gigi persneleng tidak tersambung dengan
poros roda kanan. Sehingga roda kanan akan berhenti, dan traktor akan berbelok
ke kiri. Begitu juga sebaliknya apabila kopling kiri ditekan.
- Stang kemudi dan kemudi pembantu
Stang kemudi merupakan
bagian traktor yang digunakan untuk berpegangnya operator. Stang kemudi
digunakan untuk membantu membelokan raktor. Meskipun sudah ada tuas kopling
kemudi, namun agar berbeloknya traktor dapat lebih tajam, perlu dibantu dengan
stang kemudi. Stang kemudi juga digunakan untuk mengangkat implemen pada saat
pengoperasian. Kemudi pembantu digunakan untuk tempat bertumpu bahu operator.
Maksudnya agar menambah beban bagian belakang traktor, sehingga hasil pengolahan
tanah bisa lebih dalam
- Tuas gas
Tuas gas traktor
dihubungkan dengan tuas gas pada motor penggerak. Tuas ini digunakan untuk
mengubah kecepatan putaran poros motor penggerak yang sesuai dengan tenaga yang
dibutuhkan. Tuas ini juga berfungsi untuk mematikan motor traktor, apabila
posisinya ditempatkan pada posisi “STOP”.
- Tombol lampu dan bel
Kadang-kadang traktor
digunakan pada waktu malam hari, sehingga diperlukan penerangan. Tombol bel
diperlukan apabila traktor dijalankan di jalan raya. Dengan adanya tombol lampu
dan bel ini, motor traktor harus dilengkapi dengan kumparan sebagai sumber arus
listrik.
- Tuas penyangga depan
Tuas ini dihubungkan
dengan penyangga depan. Tuas ini akan menggerakkan penyangga depan. Apabila
tuas didorong akan mendorong penyangga depan turun untuk menyangga traktor.
Traktor tangan hanya mempunyai dua roda. Apabila traktor dalam keadaan berhenti
(ditinggal operator),maka untuk menegakkan traktor diperlukan penyangga.
2.2 Definisi Traktor roda empat
Traktor roda empat adalah mesin berdaya gerak
sendiri berupa motor diesel beroda empat (ban karet atau ditambah roda sangkar
yang terbuat dari baja) mempunyai tiga titik gandeng yang berfungsi untuk
menarik, menggerakan mengangkat, mendorong alat dan mesin pertanian dan juga
sebagai sumber daya gerak.
Traktor roda empat mempunyai kisaran daya motor penggerak
yang besar. Traktor yang biasa digunakan di taman/kebun mempunyai daya sekitar
11 kW (15 hp). Traktor ini di pasaran biasa disebut traktor mini atau traktor
kebun. Traktor raksasa yang biasa digunakan di perkebunan yang luas mempunyai
daya sampai 150 kW (200 hp). Namun begitu, biasanya traktor roda empat yang
biasa digunakan mempunyai daya antara 30 – 60 kW (40 - 80 hp).
2.2.1 Ukuran Traktor
Roda Empat Menurut Kapasitas
Berdasarkan jenis roda dan kecepatannya traktor
roda empat dapat digolongkan menjadi:
- Traktor satu gardan (two wheel-drive tractor/rowcrotractor)
Traktor satu gardan
banyak digunakan di perkebunan kecil yang membudidayakan tanaman larikan
seperti; kentang kobis. Traktor ini mempunyai sudut putar yang kecil, lebar
roda tipis dan jarak antar roda kiri dan kanan dapat diatur. Umumnya daya yang
digunakan tidak terlalu besar atau , sekitar 22 – 33 kw (30 – 45 hp).
- Traktor beroda track
Traktor beroda track
banyak digunakan di perkebunan yang luas atau di perkebunan yang masih baru,
yang lahannya belum tertata. Daya penggerak yang biasa digunakan antara 52 –
110 kW (70 – 150 hp). Traktor ini tidak bias digunakan di jalan raya, hanya
digunakan pada kebun yang satu e kebun yang ain. Kecepatan jalannya rendah,
namun mempunyai daya tarik yang tinggi dan dapat digunakan pada kondisi ahan
yang berat. Karena lebar rodanya besar maka daya tumpu ke tanah menjadi kecil,
sehingga traktor ini dapat digunakan pada lahan yang lembek tanpa takut
tenggelam.
- Traktor dobel gardan (two wheel-drive tractor)
Dibanding dengan traktor
satu gardan, traktor dobel gardan mempunyai daya tarik yang lebih besar. Karena
masih menggunaka roda ban, traktor ini masih dapat berjalan di jalan raya. Maka
banyak pemilik perkebunan memilih traktor jenis ini.
Ada dua tipe dari traktor dobel gardan,
- Traktor dengan roda depan lebih kecil dari roda belakang, daya yang digunakan antara 33 – 67 kW (45 – 90 hp)
- Traktor dengan roda depan sama besar dengan roda belakang, daya yang digunakan antara 75 – 150 kw (100 – 200 hp)
2.2.2 Jenis Pekerjaan Yang
Bisa Dilakukan Traktor Empat Roda
traktor roda empat yang dipergunakan di Asia
Tenggara memiliki tenaga 12hp hingga 80hp, sebagian berpenggerak dua-roda (two-wheel
drive), dan beberapa berpenggerak empat-roda (four-wheel drive).
Traktor roda empat banyak dipergunakan di lahan perkebunan, dan di beberapa
negara sudah dipergunakan di lahan sawah.
Dalam memilih jenis dan ukuran traktor, hal-hal
berikut harus benar-benar diperhatikan:
·
Pekerjaan apa yang ingin dilakukan, dan implemen
apa yang akan dipergunakan
·
Jenis-jenis lahan yang harus dipertimbangkan
antara lain: lahan kering (upland field), lahan sawah, hutan, padang rumput,
semak-semak, dll.
·
Jam kerja pertahun
·
Luas lahan yang akan digarap, jarak antara petak
lahan, frekuensi pindah dari satu petak ke petak lainnya, kondisi kerja dan
pindah, kemiringan lahan, dll
Sebagai contoh,
sebaiknya dipergunakan traktor yang besar bila lahannya luas dengan ukuran
petak lahan yang akan diolah besar, dan waktu kerja per tahun juga besar. Namun
demikian, akan lebih efektif menggunakan traktor lebih kecil bila ukuran petak
lahannya kecil. Traktor ukuran kecil juga lebih baik dipergunakan untuk lahan
sawah yang ukuran petaknya lebih kecil. Traktor berpengerak empa-roda lebih
baik dipergunakan pada lahan-lahan dengan tingkat kemiringan tinggi, banyak
galengan/tanggul. Bila akan membajak lahan yang baru dibuka, dimana disana
masih terdapat banyak batu dan tunggul, maka traktor dengan peralatan draft-control
akan lebih baik dipergunakan. Jika kita memerlukan lebih dari satu unit
traktor, maka memiliki traktor dengan jenis yang sama atau berbeda, sama-sama
memiliki kelebihan dan kekurangan. Bila jenisnya sama, maka akan lebih mudah
memeliharan dan menyediakan suku cadang, tapi tidak dapat dipergunakan untuk
pekerjaan yang sangat bervariasi.
Traktor roda empat mempunyai kisaran daya
motor penggerak yang besar. Traktor yang biasa digunakan di taman/kebun
mempunyai daya sekitar 11 kW (15 hp). Traktor ini di pasaran biasa disebut
traktor mini atau traktor kebun. Traktor raksasa yang biasa digunakan di
perkebunan yang luas mempunyai daya sampai 150 kW (200 hp). Namun begitu,
biasanya traktor roda empat yang biasa digunakan mempunyai dayaantara 30 – 60
kW (40 - 80 hp).
2.2.3 Komponen Utama Traktor Empat Roda
Traktor roda empat secara mendasar terdiri dari
bagian-bagian utama sebagai berikut:
- Enjin (engine)
- Alat untuk penyaluran tenaga (power transmission device)
- Alat untuk bergerak (running device)
- Alat untuk kemudi (steering device)
- Alat untuk bekerja (working device)
Secara umum, bila melihat bagian-bagian
tersebut, sepertinya tidak ada perbedaan besar antara traktor dengan mobil pada
umumnya. Perbedaan sepertinya hanya ada pada bagian terakhir yaitu alat untuk
bekerja, namun demikian sebenarnya keempat bagian lainnya juga ada banyak
perbedaan. Misalnya bila kita ingin mengubah sebuah truk dimodifikasi menjadi
traktor, maka hal-hal berikut harus dipertimbangkan:
- Konstruksi traktor sangat kaku di semua bagian
- Traktor dipergunakan dengan beban berat hampir di seluruh waktu kerjanya
- Traktor bergrak dengan kecepatan rendah
- Traktor umumnya bergerak di lahan yang tidak rata
- Traktor beroperasi pada lahan berdebu dan berlumpur
- Traksi atau gaya tarik yang kuat diperlukan
- Rem untuk roda kiri dan kana harus dipisahkan dan bebas, namun bisa disatukan dengan menggunakan differential lock
Kebanyakan dari traktor
roda empat dilengkapi dengan enjin diesel, 4-tak, berpendingin air. Banyak
diantaranya memiliki 2 hingga 6 silinder. Enjin traktor nampak seperti enjin
truk atau bus tetapi dilengkapi dengan governor yang efektif untuk keperluan
dapat menjaga putaran konstan dengan tanpa memandang beban yang diberikan.
Enjin
dari sebuah traktor roda empat umumnya dilengkapi dengan:
·
Sistem bahan bakar. Enjin traktor biasanya
memiliki sebuah pompa injeksi untuk setiap silinder. Untuk mengalirkan bahan
bakar, diperlukan pompa bahan bakar (lihat Gambar 2).
·
Sistem pelumasan. Minyak pelumas dialirkan
secara paksa oleh pompa minyak pelumas ke berbagai bagian enjin.
·
Sistem pendingin. Radiator dan kipas pendingin
selalu melengkapi enjin yang berpendingin air. Pompa harus dilengkapi untuk
memastikan terjadinya sirkulasi air. (Lihat Gambar 3)
·
Sistem listrik. Ada alat motor starter untuk
memutar flywheel yang ditenagai oleh aki (accu). Aki juga digunakan
untuk menyalakan lampu, klakson dan aksesoris lainnya. Aki dicharge oleh
generator, yang selalu berputar bersama putaran enjin.
2. Alat untuk penyaluran
tenaga (power transmission device)
Alat ini berfungsi menyalurkan tenaga dari enjin
menuju roda, poros pto, pompa oli untuk menggerakkan tiga-titik gandeng (thre-
point linkage/hitch), dan lain-lainnya, pada berbagai tingkat kecepatan
putaran. Penyaluran tenaga ke roda, mirip dengan yang ada pada mobil, yaitu
memiliki urutan dari enjin kopling - gigi kecepatan - gigi diffrensial -
poros roda. Karena traktor bergerak dengan kecepatan yang sangat bervariasi,
mulai dari 0,3 hingga 10 km/jam di lahan, dan 15 - 24 km/jam di jalan raya,
jumlah gigi perubahan kecepatan umumnya bervariasi dari 6 hingga 12, atau
lebih. Gigi differensial dapat dikunci dengan diffrential lock, ini akan
membuat kedua roda penggerak berputar bersamaan bila salah satu roda mengalami
slip. Blok enjin dan sistem transmisi biasanya menjadi satu
sebagai badan utama traktor, maka dia dibuat dengan konstruksi yang sangat kuat
3.
Alat
untuk bergerak (running device)\
Bagian utama untuk
bergerak adalah roda ban. Roda ban traktor ukurannya besar, untuk memberikan ground
clearance yang besar, juga untuk mempermudah gerak pada lahan tidak rata,
dan juga untuk meningkatkan kemampuan traksi. Namun demikian, untuk lebih
meningkatkan kemampuan traksinya, kembang roda ban dibuat lebih tinggi.
Demikian juga sering dilengkapi dengan berat tambahan berupa besi atau
penambahan air ke dalam ban.
Namun demikian, pada lahan sawah yang berlumpur,
beban yang berat akan malah menghambar gerak traktor. Oleh sebab itu, traktor
untuk lahan sawah biasanya dilengkapi roda sangkar, untuk mengurangi tekanan
kontak. hanya disediakan pada roda belakang. Rem roda kiri dan kanan dapat
dipergunakan sendiri-sendiri untuk memudahkan belok. Traktor untuk lahan sawah
biasanya dilengkapi dengan rem yang memilik bearing dengan seal kedap air.
Beberapa traktor dengan berpenggerak empat roda memiliki empat buah roda yang
sama besar, dan ada yang memiliki roda depan yang lebih kecil.
Traktor roda empat
umumnya dikemudikan dari ruang kemudi dengan mengendalikan roda depan melalui roda kemudi (stir), sebagaimana umumnya mobil. Namun ada juga kemudi
dilakukan dengan mengatur roda belakang, seperti traktor buatan Thailand. Gigi
differential sangat penting untuk poros roda penggerak, dan jangan gunakan differential
lock saat berbelok. Sistem power steering digunakan untuk traktor
besar. Ini akan membantu memperingan pengemudian traktor. Saat berbelok,
diperlukan juga bantuan rem kiri bila berbelok tajam ke kiri atau sebaliknya.
5. Alat untuk bekerja (working device)
Tiga-titik gandeng (three-point hitch)
adalah bagian dari traktor yang berfungsi untuk menggandeng implemen. Dua buah lower
link, kiri dan kanan, mampu bergerak naik yang dioperasikan oleh tekanan
hidrolik, dan bergerak turun oleh gaya gravitasi. Implemen dapat
dinaik-turunkan oleh operator melalui alat ini dari kursi duduk operator. Pada
saat mengolah tanah, implemen pengolahan tanah umumnya diangkat pada saat
traktor berbelok. Bila peralatan stasioner, misalnya alat perontok atau pompa
air dioperasikan melalui pemanfaatan poros pto, maka alat-alat tersebut akan
dapat dengan mudah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya apabila
alat-alat tersebut dipasangkan pada tiga-titik gandeng.
Tiga-titik gandeng biasanya dilengkapi dengan alat kendali posisi otomatis (automatic
posisition control device), atau alat kendali draft otomatis (automatic
draft control device), atau keduanya. Yang pertama berfungsi menjaga agar
implemen selalu berada pada ketinggian yang telah diset melalui tuas kendali.
Yang kedua digunakan untuk secara otomatis menjaga tahanan tarik yang tetap,
misalkan, dengan secara otomatis menaikkan implemen bila melalui tanah keras
atau halangan, dan jika tanahnya seragam, maka kedalaman pengolahan yang
seragam akan dengan mudah dapat diperoleh.
Tenaga yang disediakan pada poros pto dipergunakan untuk memutar implemen
sambil menariknya seperti kultivator rotari, mower, dll. Dan juga dapat
digunakan untuk menggerakkan peralatan stasioner. Poros pto biasanya terletak
di bagian belakang bawah traktor. Putaran pto bervariasi tergantung jenis
traktor, berkisar antara 500 hingga 1500 rpm sesuai dengan putaran engine. Ada
yang putaran pto tidak bergantung pada kecepatan maju traktor (cocok untuk
kultvator rotari, mower, kerja stasioner, dll), ada juga yang sesuai dengan
laju traktor (cocok untuk alat tanam, penyiang, dll)
2.3 Motor Bakar
Motor bakar adalah mesin atau pesawat yang
menggunakan energi termal untuk melakukan kerja mekanik, yaitu dengan cara
merubah energi kimia dari bahan bakar menjadi energi panas, dan menggunakan
energi tersebut untuk melakukan kerja mekanik. Energi termal diperoleh dari
pembakaran bahan bakar pada masin itu sendiri. Jika ditinjau dari cara
memperoleh energi termal ini (proses pembakaran bahan bakar), maka motor bakar
dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu: motor pembakaran luar dan motor
pembakaran dalam.
2.3.1 Motor 2 Tak
Pada dasarnya prinsip kerja motor 2-tak
sangat simpel/sederhana. Pada satu siklus pembakaran terjadi dua kali
langkah seker/piston. sangat berbeda sekali dengan prinsip kerja motor
4-tak. Pada motor 4-tak terjadi 4 langkah pada satu siklus pembakaran. walaupun
sama-sama memiliki 4 proses, langkah isap, langkah tekanan/kompresi, langkah
putar/tenaga dan langkah buang. yang diteruskan ke saluran buang atau Knalpot.
Setelah kita mengetahui langkah kerja motor
bensin 4 tak, kali ini kita akan membahas langkah kerja motor bensin 2 tak.
Jadi dalam motor bensin 2 tak, piston melakukan 2 kali langkah kerja
dalam 1 kali langkah usaha.
·
Langkah kompresi dan langkah hisap pada langkah
ini dalam motor 2 tak terjadi 2 aksi berbeda yang terjadi secara bersamaan
yaitu aksi kompresi yang terjadi pada ruang silinder atau pada bagian
atas dari piston dan aksi hisap yang terjadi pada ruang engkol atau pada bagian
bawah piston. Sedang kang yang terjadi dalam langkah ini adalah : -torak
bergerak dari TMB (titik mati bawah) ke TMA (titik mati
atas). -pada saat saluran pembiasan tertutup mulai dilakukan langkah
kompresi pada ruang silinder. -dan pada saat saluran hisap membuka maka
campuran udara dan bensin akan masuk ke dalam ruang engkol.
·
Langkah usaha dan buang Dan pada langkah ini
terjadi langkah usaha dan buang yang terjadi pada saat yang tidak bersamaan,
jadi langkah usaha dahulu barulah setelah saluran pembiasan dan saluran buang
terbuka terjadi langkah buang. Yang terjadi dalam langkah ini adalah : -sebelum
piston mencapai TMA (titik mati atas), busi akan memercikan bunga api
listrik sehingga campuran udara dan bahan bakar akar terbakar dan
menyebabkan timbulnya daya dorong terhadap piston, sehingga piston akan
bergerak dari TMA (titik mati atas) ke TMB (titik mati bawah).
-sesaat setelah saluran hisap tertutup dan saluran bias serta saluram buang membuka
maka campuran udara dan bahan bakar yamg berada diruang engkol akan
mendorong gas sisa hasil pembakaran melalui saluran bias kesaluran
2.3.2 Motor 4 Tak
Mengapa mesin disebut 4 tak, karena memang ada 4
langkah berikut langkah langkah dalam mesin 4-tak :
·
Intake
Disebut langkah intake karena langkah pertama
adalah menghisap melalui piston dari karburator. Pasokan bahan bakar tidak
cukup hanya dari semprotan karburator. Cara kerjanya adalah sbb. Piston pertama
kali berada di posisi atas (atau disebut Titik Mati Atas). Lalu piston
menghisap bahan bakar yang sudah disetting/dicampur antara bensin dan udara di
karburator. Piston lalu mundur menghisap bahan bakar. Untuk membuka, diperlukan
klep atau valve inlet yang akan membuka pada saat piston turun/menghisap ke
arah bawah.
·
Kompresi
Langkah ini adalah
lanjutan dari langkah di atas. Setelah piston mencapai titik terbawah di
tahapan intake, lalu valve intake tertutup, dan dilakukan proses kompresi.
Yakni, bahan bakar yang sudah ada di ruang bakar dimampatkan. Ruangan sudah
tertutup rapat karena kedua valve (intake dan exhaust) tertutup. Proses ini
terus berjalan sampai langkah berikut yakni meledaknya busi di langkah ke 3.
·
Combustion (Pembakaran)
Tahap berikut adalah busi pada titik tertentu akan meledak setelah
piston bergerak mencapai titik mati atas dan mundur beberapa derajat . Jadi,
busi tidak meledak pada saat piston di titik paling atas (disebut titik 0
derajat), tetapi piston mundur dulu, baru meledak. Hal ini karena untuk
menghindari adanya energi yang terbuang sia-sia karena pada saat piston di
titik mati atas, masih ada energi laten (yang tersimpan akibat dorongan proses
kompresi). Jika pada titik 0 derajat busi meledak, bisa jadi piston mundur
tetapi mengengkol crankshaft ke arah belakang (motor mundur ke belakang, bukan
memutar roda ke depan). Setelah proses pembakaran, maka piston memiliki energi
untuk mendorong crankshaft yang nantinya akan dialirkan melalui gearbox dan
sproket, rantai, dan terakhir ke roda.
·
Exhaust (Pembuangan)
Langkah terakhir ini
dilakukan setelah pembakaran. Piston akibat pembakaran akan terdorong hingga ke
titik yang paling bawah, atau disebut Titik Mati Bawah. Setelah itu, piston
akan mendorong ke depan dan klep exhaust membuka sementara klep intake
tertutup. Oleh karena itu, maka gas buang akan terdorong masuk ke lubang
Exhaust Port (atau kita bilang lubang sambungan ke knalpot). Dengan demikian,
maka kita bisa membuang semua sisa gas buang akibat pembakaran. Dan setelah
bersih kembali, lalu kita akan masuk lagi mengulangi langkah ke 1 lagi.
2.3.3 Motor Diesel
1)
Konstruksi Motor Diesel Penggerak Generator Listrik ( 4 Tak )
Secara garis besarnya konstuksi utama sebuah
motor diesel penggerak generator listrik (4 tak) dapat dibagi menjadi 5 bagian
utama, meliputi :
·
Komponen sistem bahan bakar : tangki bahan
bakar, keran bahan bakar, saringan bahan bakar, pompa injeksi, mekanisme
governor, pipa tekanan tinggi, injektor (nozzle) dan saluran pengembalian bahan
bakar.
·
Komponen sistem pelumasan : panci oli (carter),
saringan kasar (oil screen), pompa oli, saringan halus (oil filter), indikator
oli dan saluran penyalur oli pelumas.
·
Komponen sistem pendinginan : tangki air
pendingin, mantel pendingin blok selinder (water jacket) dan komponen lain
sesuai tipe pendinginan yang digunakan (lihat pada bagian system pendinginan).
·
Komponen sistem mekanisme katup : poros bubungan
(cam shaft), pengungkit (tappet), batang pendorong (push rod), tuas penekan
katup (rocker arm), katup dan pegas katup.
·
Komponen lain di luar keempat sistem yang telah
disebutkan, yaitu : blok selinder, kepala selinder, torak (piston), batang
torak (connecting rod), poros engkol, roda gila (fly wheel) dan puli penggerak.
Motor diesel dengan sistem pendinginan tipe
hopper, efek pendinginan diperoleh dengan merambatkan panas blok selinder ke
air pendingin, sehingga air akan menguap ke permukaan. Dalam jangka waktu
operasi tertentu (40 menit sampai 1 jam) air pendingin dalam tangki harus
ditambahkan. Indikator jumlah air pendingin tipe hopper ini biasanya menggunakan
bola apung. Jika bola apungnya sudah tidak tampak, berarti jumlah air pendingin
sudah menyusut dan perlu ditambahkan. Motor diesel dengan sistem pendinginan
tipe radiator, biasanya dilengkapi dengan kipas pendingin (cooling fan) dan
tutup radiator. Saat mesin beroperasi, air yang berada di sekitar blok selinder
menjadi panas dan bergerak naik ke tangki bagian atas dengan melewati
sirip-sirip (fin) radiator. Efek pendinginan diperoleh dari aliran udara dari
kipas pendingin ke sirip-sirip (fin) radiator. Tutup radiator berfungsi untuk
menaikkan tekanan udara di dalam tangki yang berakibat titik didih air
pendingin akan lebih tinggi dari 1000C, sehingga dapat memperlambat proses
penguapan. Keuntungannya dibandingkan dengan tipe hopper adalah frekwensi penambahan
jumlah air pendingin ke dalam tangki lebih rendah.
Motor diesel dengan sistem pendinginan tipe
kondensor juga dilengkapi dengan kipas pendingin (cooling fan), akan tetapi
bagian atasnya tidak ditutup (tidak memiliki tutup radiator). Efek pendinginannya
memanfaatkan prinsip kondensasi (pengembunan). Uap air pendingin dilewatkan ke
pipa-pipa kecil yang dialiri udara dari kipas pendingin, sehingga akan
mengembun dan menjadi air kembali. Air tersebut akan ditampung dalam tangki
kondensor. Saat jumlah air pendingin dalam tangki bawah (di atas blok selinder)
berkurang maka tekanan udaranya akan turun (terjadi kevacuman). Hal itu
mengakibatkan air dalam tangki kondensor tersedot ke tangki bawah (di atas
blok). Keuntungan sistem pendinginan tipe radiator dan tipe kondensor
dibandingkan dengan tipe hopper adalah mesin dapat dioperasikan 41 selama
kurang lebih 10 jam secara terus tanpa menambahkan air pendingin ke dalam
tangki.
2.3.4 Motor Bensin
Pada motor bensin, bensin dibakar untuk
memperoleh energi termal. Energi ini selanjutnya digunakan untuk melakukan
gerakan mekanik. Prinsip kerja motor bensin, secara sederhana dapat dijelaskan
sebagai berikut : campuran udara dan bensin dari karburator diisap masuk ke
dalam silinder, dimampatkan oleh gerak naik torak, dibakar untuk memperoleh
tenaga panas, yang mana dengan terbakarnya gas-gas akan mempertinggi suhu dan
tekanan. Bila torak bergerak turun naik di dalam silinder dan menerima tekanan
tinggi akibat pembakaran, maka suatu tenaga kerja pada torak memungkinkan torak
terdorong ke bawah. Bila batang torak dan poros engkol dilengkapi untuk merubah
gerakan turun naik menjadi gerakan putar, torak akan menggerakkan batang torak
dan yang mana ini akan memutarkan poros engkol. Dan juga diperlukan untuk
membuang gas-gas sisa pembakaran dan penyediaan campuran udara bensin pada
saat-saat yang tepat untuk menjaga agar torak dapat bergerak secara periodik
dan melakukan kerja tetap.
2.4 Oil Pemulas
Oil atau Pelumas adalah zat
kimia, yang umumnya cairan, yang diberikan di antara dua benda bergerak untuk
mengurangi gaya gesek. Pelumas
berfungsi sebagai lapisan pelindung yang memisahkan dua permukaan yang
berhubungan. Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10% zat tambahan. Salah satu penggunaan pelumas
paling utama adalah oli mesin yang dipakai
pada mesin pembakaran dalam.
Fungsi dan tujuan pelumasan
Pada berbagai jenis mesin
dan peralatan yang sedang bergerak, akan terjadi peristiwa pergesekan antara
logam. Oleh karena itu akan terjadi peristiwa pelepasan partikel partikel dari
pergesekan tersebut. Keadaan dimana logam melepaskan partikel disebut aus atau
keausan. Untuk mencegah atau mengurangi keausan yang lebih parah yaitu memperlancar
kerja mesin dan memperpanjang usia dari mesin dan peralatan itu sendiri, maka
bagian bagian logam dan peralatan yang mengalami gesekan tersebut diberi
perlindungan ekstra.
1. Tugas pokok pelumas
Pada dasarnya yang menjadi
tugas pokok pelumas adalah mencegah atau mengurangi keausan sebagai akibat dari
kontak langsung antara permukaan logam yang satu dengan permukaan logam lain
terus menerus bergerak. Selain keausan dapat dikurangi, permukaan logam yang
terlumasi akan mengurangi besar tenaga yang diperlukan akibat terserap gesekan,
dan panas yang ditimbulkan oleh gesekan akan berkurang.
2. Tugas tambahan pelumas
Selain mempunyai tugas
pokok, pelumas juga berfungsi sebagai penghantar panas. Pada mesin mesin dengan
kecepatan putaran tinggi, panas akan timbul pada bantalan bantalan sebagai
akibat dari adanya gesekan yang banyak. Dalam hal ini pelumas berfungsi sebagai
penghantar panas dari bantalan untuk mencegah peningkatan temperatur atau suhu
mesin. Suhu yang tinggi akan merusak daya lumas. Apabila daya lumas berkurang,
maka maka gesekan akan bertambah dan selanjutnya panas yang timbul akan semakin
banyak sehingga suhu terus bertambah. Akibatnya pada bantalan bantalan tersebut
akan terjadi kemacetan yang secara otomatis mesin akan berhenti secara mendadak.
Oleh karena itu, mesin mesin dengan kecepatan tinggi digunakan pelumas yang
titik cairnya tinggi, sehingga walaupun pada suhu yang tinggi pelumas tersebut
tetap stabil dan dapat melakukan pelumasan dengan baik. Untuk memperoleh hasil
yang maksimal atau memuaskan di dalam sistem pelumasan ini maka mutlak
diperlukan adanya selektifitas penggunaan pelumas itu sendiri, yaitu menentukan
jenis pelumas yang tepat untuk mesin dan peralatan yang akan dilumasi. Hal ini
untuk mencegah salah pilih dari pelumas yang akan dipakai yang dapat berakibat
fatal.
2.5
Maintanance/ Perawatan traktor roda 2
dan 4
2.5.1
Maintanance/ Perawatan traktor roda
Cara
merawat traktor roda 2 diantaranya yaitu :
·
Sebelum di operasikan
sebaiknya cek seluruh kondisi traktor apakah ada yang kurang kuat (longgar)
atau tidak dan jika ad maka dikencangkan
·
Lakukan pemanasan
sebelum traktor digunakan agar mesin lebih stabil dan optimal dalam bekerja
·
Oli sebaiknya digznti
tepat waktu berdasarkan waktu atau pemakaian sehingga mesin pada traktor dapat
terjaga
·
Alat-alat baik yang ada
diluar maupun didalam mesin jika sudah aus maka harus cepat diganti agar tidak
mengganggu kinerja mesin
·
Setelah memakai traktor
maka sebaiknya kotoran-kototrsn/lumpur yang melekat pada traktor dibersihkan
agar tidak mengganggu kinerja pada pengoperasian berikutnya.
2.5.2
Maintanance/ Perawatan traktor roda 4
Traktor roda empat adalah salah satu
alat pengolah tanah. Kelengkapan traktor roda empat yakni: bajak singkal, bajak
piring, garu piring dll. Traktor roda empat adalah traktor dengan tenaga
penggerak dari motor diesel dengan didukung empat buah roda. Traktor ini
dirancang untuk bekerja di lahan kering, bukan untuk lahan sawah. Berdasarkan
ukurannya dibedakan menjadi traktor mini, menengah, dan traktor besar.
Prinsip Kerja Alat
Traktor roda empat dioperasikan oleh
operator yang duduk di atas tempat duduk sambil mengemudikannya. Peralatan
pengolah tanah dipasangkan atau disambungkan dengan traktor melalui perangkat
yang disebut three hitch point atau penyambungan titik tiga, yang terdiri
sepasang garpu kiri dan kanan, sedangkan satu tuas lainnya berada di bagian
atas sistem penyambungan titik tiga, disebut top link (tuas penyambung bagian
atas).
Dengan menggunakan sistem
penyambungan ini pengaturan posisi peralatan (bajak, dll.) yang diinginkan
dapat diatur dengan memanjangkan atau memendekkan tuas penyambung atas. Untuk
mengamankan agar traktor tidak terangkat pada saat dioperasikan untuk
pengolahan tanah, maka traktor perlu diseimbangkan dengan memasang beban
tambahan pada bagian depan traktor. Dengan melakukan persiapan seperti ini,
maka traktor telah siap dioperasikan untuk pengolahan tanah.
Yang Perlu Diperhatikan
Beberapa hal ini perlu
diperhatikanketika hendak menggunakan traktor rodaempat dalam pengolahan tanah.
Pertama, atur posisi sudut bajak (peralatan yang lain) dengan permukaan tanah
disesuaikan dengan kondisi tanahnya (tanah berat atau ringan). Kedua,
pengaturan posisi sudut bajak dilakukan melalui tuas penyambungan titik
tiga.Ketiga, pasangkan beban penyeimbang di bagian depan traktor. Keempat,
traktor siap dioperasikan untuk mengolah tanah.
Manfaat Lain
Traktor roda empat ini juga
bermanfaat untuk kepentingan lain: 1) Untuk menarik peralatan pengolah tanah,
peralatan budidaya (pemupuk, penyemprot, gerobak, dll.); 2) Untuk menggerakkan
peralatan stasioner (pom pa air, mesin prosessing, dll.); 3) Untuk transportasi
di kebun.
Cek Kelengkapan Alat
Traktor roda empat merupakan mesin
yang berfungsi untuk penghela atau pcnarik peralatan. Untuk dapat digunakan
sebagai mesin pengolahan tanah, maka harus dilengkapi dengan perlengkapan
pengolah tanah, seperti bajak singkal, bajak pirang, garu piring, alat
penyemprot hama dan penyakit tanaman, dll.
Perawatan traktor roda empat perlu
dilakukan secara rutin dan perawatnya perlu mengenali bagian bagian traktor dan
fungsinya masing-masing. Spesifikasi traktor roda empat sangat bervariasi
bergantung pada besarnya daya penggerak, ukuran ban, daya tarik, daya angkat,
persneling, dan lain-lain.
Bagian-bagian utama dari traktor
roda empat memiliki fungsi masing- masing. Pertama, sistem kemudi: alat untuk
mengendalikan jalannya dan atau operasi traktor di lapangan. Kedua, roda depan
: roda bagian depan dari traktor yang berfungsi untuk pengendalian, danmemiliki
ukura diameter lebih kecil dari roda bagian belakang.
Ketiga, roda bagian belakang dengan
ukuran diameter lebih besar dari roda bagian depan traktor yang berfungsi
menumpu beban traktor dan peralatan yang terpasang. Keempat, chasisi traktor :
bagian rangka traktor roda empat yang juga merangkap sebagai rumah dari sistem
transmisi. Kelima, pemberat : besi cor yang dirancang khusus untuk pemberat
traktor agar tidak trangkat pada saat mengolah tanah. Keenam, poros PTO : poros
yang difungsikan untuk menggerakkan peralatan yang dalam pengoperasiannya
memerlukan putaran (bajak rotary), atau untuk menggerakkan peralatan stasioner.
Ketujuh, sistem penyambungan peralatan : bentuk peralatan pengolahan tanah yang
relative besar, maka pada traktor roda empat memerlukan mekanisme penyambungan
khusus, yakni sistem penyambungan titik tiga (three hitch poin).
2.6
Macam-macam pola bajak
l Pola Bolak-balik Rapat
Pengolahan
dilakukan dari tepi salah satu sisi lahan dengan arah membujur. Arah lemparan
hasil pembajakan ke luar. Setelah sampai ujung lahan, pembajakan kedua
dilakukan berimpit dengan pembajakan pertama. Arah lemparan hasil pembajakan
kedua dibalik, sehingga akan mengisi alur hasil pembajakan pertama. Pembajakan
dilakukan secara bolak balik sampai sisi seberang. Pola ini juga cocok untuk lahan
yang memanjang dan sempit. Diperlukan lahan untuk berbelok (head land) pada
kedua ujung lahan. Ujung lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2
atau 3 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang tidak terbajak (pada ujung lahan),
diolah dengan cara manual (dengan cangkul).
l Pola Keliling Tengah
Pengolahan
tanah dilakukan dari titik tengah lahan. Berputar ke kanan sejajar sisi lahan,
sampai ke tepi lahan. Lemparan pembajakan ke arah dalam lahan. Pada awal
pengolahan, operator akan kesulitan dalam membelokan traktor. Pola ini cocok
untuk lahan yang berbentuk bujur sangkar, dan lahan tidak terlalu luas.
Diperlukan lahan untuk berbelok pada kedua diagonal lahan. Lahan yang tidak
terbajak tersebut, dibajak pada 2 sampai 4 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang
tidak terbajak, diolah dengan cara manual (dengan cangkul).
l Pola Tepi.
Pembajakan
dilakukan dari tepi membujur lahan, lemparan hasil pembajakan ke arah luar
lahan. Pembajakan kedua pada sisi lain pembajakan pertama. Traktor diputar ke
kiri dan membajak dari tepi lahan dengan arah sebaliknya. Pembajakan berikutnya
dengan cara berputar ke kiri sampai ke tengah lahan. Pola ini juga cocok untuk
lahan
yang
memanjang dan sempit. Diperlukan lahan untuk berbelok (head land) pada kedua
ujung lahan. Ujung lahan yang tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang
tidak terbajak (pada ujung lahan), diolah dengan cara manual (dengan cangkul).
Dengan
pola ini akan menghasilkan alur mati (dead furrow). Yaitu alur bajakan yang saling
berdampingan satu sama lain. Sehingga akan terjadi alur yang tidak tertutup
oleh lemparan hasil pembajakan, memanjang di tengah lahan. Pada tepi lahan
lemparan hasil pembajakan tidak jatuh pada alur hasil pembajakan.
l Pola Keliling Tepi
Pengolahan
tanah dilakukan dari salah satu titik sudut lahan. Berputar ke kiri sejajar
sisi lahan, sampai ke tengah lahan. Lemparan pembajakan ke arah luar lahan.
Pada akhir pengolahan, operator akan kesulitan dalam mebelokan traktor. Pola
ini cocok untuk lahan yang berbentuk bujur sangkar, dan lahan tidak terlalu
luas. Diperlukan lahan untuk berbelok pada kedua diagonal lahan. Lahan yang
tidak terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 4 pembajakan terakhir. Sisa lahan
yang tidak terbajak, diolah dengan cara manual (dengan cangkul).
l Pola Tengah
Pembajakan
dilakukan dari tengah membujur lahan. Pembajakan kedua pada sebelah hasil
pembajakan pertama. Traktor diputar ke kanan dan membajak rapat dengan hasil
pembajakan pertama. Pembajakan berikutnya dengan cara berputar ke kanan sampai
ke tepi lahan. Pola ini cocok untuk lahan yang memanjang dan sempit. Diperlukan
lahan untuk berbelok (head land) pada kedua ujung lahan. Ujung lahan yang tidak
terbajak tersebut, dibajak pada 2 atau 3 pembajakan terakhir. Sisa lahan yang
tidak terbajak (pada ujung lahan), diolah dengan cara manual (dengan cangkul).
Dengan
pola ini akan menghasilkan alur balik (back furrow). Yaitu alur bajakan yang
saling berhadapan satu sama lain. Sehingga akan terjadi penumpukan lemparan
hasil pembajakan, memanjang di tengah lahan. Pada tepi lahan alur hasil
pembajakan tidak tertutup oleh lemparan hasil pembajakan.
2.7
Elemen dasar traktor
Keterangan gambar :
1) Lamp
2) Engine
3) Clutch
4) Gearbox
5) Handlebar
6) Speed-changing
7) Clutch-brake handle Gambar 2 Elemen Dasar traktor
8) Throttle control handle
9) Steering hand grip
10) Traction adapter
11) Driving wheel
2) Engine
3) Clutch
4) Gearbox
5) Handlebar
6) Speed-changing
7) Clutch-brake handle Gambar 2 Elemen Dasar traktor
8) Throttle control handle
9) Steering hand grip
10) Traction adapter
11) Driving wheel
2.8 Definisi
alat penyemprot
Mesin Penyemprot (Sprayer)
Sprayer merupakan alat/mesin untuk
memecah suatu cairan atau larutan suspensi menjadi tetesan (butiran tetesan-droplets)
yang besar ukurannya tertentu.
Alat Penyemprot Tangan/ Penyemprot
Gendong (Hand Sprayer)
Penyemprot yang umum digunakan oleh petani adalah “Penyemprot Tipe Gendong” biasanya
besar ukuran butiran yang dihasilkan oleh alat ini antara 100-400 ×cm.
Penyemprot tipe gendong terdiri atas dua jenis berdasarkan jenis pompa yang
digunakan, yaitu penyemprot gendong otomatis yang menggunakan pompa angin dan
penyemprot gendong semi otomatis yang menggunakan pompa isap (tekan)
Penyemprot tipe gendong, terdiri atas 3 (tiga) bagian utama,
yaitu:
a. Bagian Tangki (Reservoir)
b. Bagian Pompa (unit pompa)
c. Bagian Pengabut (unit selang dan pelengkap nozzle)
Pompa
Pompa adalah suatu mesin yang dapat
merubah suatu energy mekanis motor penggerak menjadi energy fluida (zat cair,
gas) dengan tujuan mengalirkan, menaikkan, dan memampatkan (gas).(Haryono,1982
halaman 16)
Dalam mekanisasi bidang perairan,
pompa berfungsi untuk melancarkan aliran/kebutuhan air bagi pertnian dan
terutama dapat menaikkan air dari dalam tanah atau dari dalam sungai hingga ke
daerah pertanian.
Tipe pompa yang diperlukan tegantung
dari daya hisap dan daya tekannya. Tenaga yang dipergunakan untuk menggerakkan
pompa berasal dari tenaga manusia, angina tau motor. Ada beberapa tipe pompa
yang umumnya dipergunakan di di daerah pertanian, yaitu:
1. Pompa plunyer, yang sesuai untuk sumur dalam
2. Pompa torak, yang dapat digunakan untuk sumur
dangkal.
3. Pompa sentrifugal.
4. Pompa propeller (axial).
Pompa spiral adalah suatu pesawat
pengangkut zat cair dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi.
Pengangkutan zat cair itu pertama kali diperoleh dari energy kinetic kemudian
berangsur-angsur berubah menjadi energy potensial (Hardjosentono,
Dkk. 2002).
Untuk menentukan besarnya debit air yang diperlukan untuk
mengairi suatu lahan tergantung pada areal lahan, kebutuhan air, tanaman dan
tebal genangan.
Sistem irigasi yang umum adalah
system irigasi gravitasi, tetapi pengembangan system irigasi gravitasi semkain
kecil, maka alternative lain adalah dengan menggunakan system irigasi pompa
air. System ini dipilih karena sesuai dengan kebutuhan suatu kawasan pertanian,
pompa ini pun dapat bekerja secara efisien dan ekonomis (Nawawi, 2001).
Fungsi Utama
Fungsi utama sprayer adalah untuk
memecahkan cairan yang disemprotkan menjadi tetesan kecil (droplet) dan
mendistribusikan secara merata pada objek yang dilindungi.
- a. Kegunaan Khusus
Sprayer digunakan untuk :
1)
Menyemprotkan insektisida untuk mencegah dan memberantas hama
2)
Menyemprotkan fungisida untuk mencegah dan memberantas penyakit
3)
Menyemprotkan herbisida untuk mencegah dan memberantas gulma
4)
Menyemprotkan pupuk cairan
5)
Menyemprotkan cairan hormon pada tanaman untuk tujuan tertentu
- b. Tujuan Sprayer
Agar mampu melakukan kalibrasi serta
menentukan jumlah pelarut untuk kebutuhan budidaya tanaman tertentu.
2.8.1 Jenis-jenis alat penyemprot
Sprayer dikelompokan berdasarkan
tenaga penggerak dan jenis pompa sprayer :
1. Berdasarkan
tenaga penggerak
a)
Sprayer dengan Penggerak Tangan (Hand Operated Sprayer)

Gambar 3. Handsprayer
-
Atomizer (Hand sprayer)
-
Sprayer otomatis (Compressed air sprayer)
-
Sprayer semi otomatis (Knapsack sprayer)
-
Bucket sprayer
-
Barrel sprayer
-
Wheel barrow sprayer
-
Slide pump sprayer
b) Sprayer
Bermotor (Power Sprayer)
-
Hydraulic sprayer
-
Blower sprayer
-
Hydro pneumatic sprayer
-
Aerosol generator
2. Berdasarkan
tenaga penggerak
a)
Pompa tekanan udara : memompa udara ke dalam tangki cairan dan menekan
cairan ke nozzle.
-
Sprayer otomatis (Compressed air sprayer)
-
Hydro pneumatic sprayer
b)
Pompa cairan : memompa cairan langsung ke nozzle.
- Sprayer
semi otomatis
-
Bucket sprayer
-
Barrel sprayer
-
Wheel barrow sprayer
-
Slide pump sprayer
-
Power hydraulic sprayer
c)
Pompa penghembus udara
-
Atomizer (Hand sprayer)
-
Power blower sprayer
Adapun
jenis-jenis sprayer yang digunakan di lapangan yaitu :
1.
Home hold sprayer (untuk
kebutuhan rumah tangga)
2.
Knapsack-sprayer dengan
pompa udara tekan
3.
Knapsack-sprayer bertekanan
konstan dengan pompa plunyer
4.
Bucket sprayer (sprayer ember)
5.
Barrel sprayer (sprayer tong), dan Wheel barrow sprayer (sprayer beroda)
Spesifikasi Handsprayer
Secara umum spesifikasi alat
penyemprot meliputi data teknis mengenai :
a.
Volume tangki : 10 – 20 L
b.
Kapasitas tangki : 8 – 16 L
c.
Kekuatan tangki : 10 – 15 kg / cm2 ( 140 – 200 psi)
d.
Bahan konstruksi : plat logam anti karat
2.8.2 Jenis-jenis Nozel dan
Kegunaanya
1.
Variable Cone Nozzle.
Variabel Cone tips nosel memiliki pola semprot berbentuk kerucut yang
disesuaikan dari kabut halus ke sungai yang solid. Pola disesuaikan membuat
variabel tips kerucut alat semprot serbaguna. Kalibrasi nosel ini tidak mudah
karena kesulitan menyesuaikan ujung ke pola yang sama dan waktu aliran setelah
waktu. Meskipun tidak ideal untuk sebagian besar aplikasi, mereka berguna bagi
banyak orang, dan semprotan insektisida fungisida herbisida.
- Hollow Cone nozzle.
Hollow Cone tips nozzle menghasilkan semprot halus yang terkonsentrasi di tepi
luar pola. semprot Pendekatan target dari sudut yang berbeda meningkatkan
cakupan. Mereka dirancang untuk aplikasi fungisida dan insektisida di mana
cakupan yang sangat baik adalah diperlukan. Pola baik semprot spray drift
meningkatkan potensi.
- Multi nozzle boom
Multi nozzle boom Menggunakan boom sprayer, dibandingkan dengan
mengayunkan banjir jet nozzle tunggal, akan meningkatkan keseragaman aplikasi
spray. Lebar lulus mungkin lebih kecil menggunakan tiga atau empat boom nozzle,
tapi lulus masing-masing akan memiliki distribusi herbisida sangat seragam.
petak Spray tiga meter atau lebih dapat diperoleh dengan fitting ransel dengan
nozel yang sesuai dan menyesuaikan tekanan semprot sistem untuk memberikan
output yang memadai.
- Flat Fan nozzle dan Even Fan nozzle
Flat Fan tips nozzle dirancang khusus untuk booming beberapa nozzle. Pola spray
meruncing dari pusat (full flow) ke tepi (aliran ringan) dan dirancang untuk
tumpang tindih dengan nozel berdekatan, menciptakan pola seragam di ledakan
semprot tips nozzle Bahkan Fan dirancang untuk semprotan single pass lebih dari
baris tanaman atau antara baris. Pola spray seragam (aliran penuh) dari ujung
ke ujung. tips kipas Bahkan semprotan tidak dibuat untuk digunakan pada
beberapa nosel booming tips nozzle Banjir dirancang untuk memiliki pola
semprotan lebar pada tekanan rendah membuat mereka populer dengan operator
sprayer ransel. Mereka yang paling cocok untuk defoliants dan herbisida. Pola
spray meruncing dari pusat ke tepi, namun itu tidak seragam secara bertahap
sebagai bahwa dari kipas datar.
BAB III
ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
Alat atau Perkakas (Inggris: tools) adalah benda yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan kita
sehari-hari. Beberapa contoh alat adalah palu, tang,
gergaji, dan cangkul dan juga
traktor atau bajak.
3.1.1 Bajak Singkal
Secara umum bajak singkal dibedakan atas 2 jenis, yaitu
bajak singkal satu arah (one-way moldboard plow) dan bajak singkal dua arah
(two-way moldboard plow). Bajak singkal satu arah adalah jenis bajak singkal dimana
pada waktu pengolahan tanah akan melempar dan membalik tanah hanya pada satu
arah saja. Sedangkan bajak singkal 2 arah pada waktu mengolah tanah arah
pelemparan atau pembalikan tanah dapat diatur 2 arah, yaitu ke kanan dan ke
kiri. Bagian-bagian utama dari bajak singkal yang aktif mengolah tanah adalah
pisau bajak (share), singkal (moldboard) dan penstabil bajak (landside).
Fungsi dari pisau bajak adalah untuk
memotong tanah secara horisontal. Biasanya alat ini terbuat dari logam yang
berbentuk tajam. Singkal berfungsi untuk menghancurkan dan membalik tanah,
karena bentuknya yang melengkung maka pada waktu bajak bergerak maju, tanah
yang terpotong akan terangkat ke atas dan kemudian dibalik dan dilemparkan
sesuai dengan arah pembalikan bajak. Landside berfungsi untuk mempertahankan
gerak maju bajak agar tetap lurus, dengan cara menahan atau mengimbangi gaya
kesamping yang diterima bajak singkal pada waktu bajak tersebut digunakan untuk
memotong dan membalik tanah.
Bajak singkal ini dapat digunakan untuk bermacam-macam jenis
tanah dan sangat baik untuk membalik tanah. Bagian dari bajak singkal
yang memotong dan membalik tanah disebut bottom. Suatu bajak dapat
terdiri dari satu bottom atau lebih. Bottom ini dibangun dari
bagian-bagian utama, yaitu : 1) singkal (moldboard), 2) pisau (share),
dan 3) penahan samping (landside) .Ketiga bagian utama tersebut diikat
pada bagian yang disebut pernyatu (frog). Unit ini dihubungkan dengan
rangka (frame) melalui batang penarik (beam).

Gambar 4.Bajak singkal
3.1.2 Bajak Rotary
Bajak rotari adalah bajak yang terdiri dari pisau-pisau yang
berputar. Berbeda dengan bajak piringan yang berputar karena ditarik traktor,
maka bajak ini terdiri dari pisau-pisau yang dapat mencangkul yang dipasang
pada suatu poros yang berputar karena digerakan oleh suatu motor. Bajak ini
banyak ditemui pada pengolahan tanah sawah untuk pertanaman padi. Ada tiga
jenis bajak rotari yang biasa dipergunakam. Jenis pertama yang disebut dengan
tipe tarik dengan mesin tambahan (pull auxiliary rotary engine). Pada
jenis ini terdapat motor khusus untuk menggerakkan bajak, sedangkan gerak
majunya ditarik oleh traktor.
Pengolahan tanah dengan bajak akan menghasilkan
bongkahan-bongkahan yang besar, sehingga biasanya masih diperlukan tambahan
pengerjaan untuk memperoleh keadaan tanah yang lebih halus lagi.
Dengan menggunakan bajak putar pengerjaannya hanya dilakukan
sekali tempuh. Bajak putar ini dapat digunakan pada tanah yang kering maupun
tanah sawah, kadang-kadang juga digunakan untuk mengerjakan tanah kedua dan
juga dapat digunakan untuk melakukan penyiangan atau pendangiran. Penggunaan
bajak rotari untuk pengolahan tanah dapat memberikan hasil yang lebih baik
(baik untuk tanah kering maupun tanah basah).
Untuk mengatasi lengketnya tanah
pada pisau maka dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah pisau dan mempercepat
putaran pada rotor dan memperlambat gerakan maju. Makin cepat perputaran rotor
akan lebih banyak daya yang digunakan, namun akan diperoleh hasil penggemburan
yang lebih halus.
Rotari memiliki bagian-bagian yang
sangat penting, yaitu : pisau, poros putar, rotor, penutup belakang (rear
shield) dan roda dukung (land wheel). Pisau berfungsi untuk mencacah tanah pada
waktu pengolahan tanah dengan bajak putar, pisau-pisau potong biasanya dipasang
pada poros yang digerakkan horisontal yang bekerja dengan 300 putaran per
menit. Rotor berfungsi sebagai tempat pemasangan pisau-pisau dari bajak putar.
Rear shield berfungsi untuk membantu penghancuran tanah, adanya penutup
belakang ini memungkinkan tanah lebih hancur karena tanah yang terlempar dari
pisau terbentur pada penutup. Land wheel berfungsi untuk mengatur kedalaman
pengolahan tanah.
Prinsip kerja dari rotary ini adalah
: pisau-pisau dipasang pada rotor secara melingkar sehingga beban terhadap
mesin merata dan dapat memotong tanah secara bertahap. Sewaktu rotor berputar
dan alat bergerak maju maka pisau akan memotong tanah. Luas tanah yang
terpotong dalam sekali pemotongan tergantung pada kedalaman dan kecepatan
bergerak maju. Gerakan putaran rotor-rotor (pisau-pisau) diakibatkan daya dari
rotor yang diteruskan melalui sistem penerusan daya khusus sampai ke rotor
tersebut.

Gambar 5.Bajak Rotari Tipe Vertikal
Jenis kedua adalah tipe tarik dengan penggerak PTO (pull power take off driven
rotary plow). Alat ini digandengkan dengan traktor melalui tiga titik gandeng
(three point hitch). Untuk memutar bajak ini digunakan daya dari as PTO
traktor.
Jenis ketiga adalah bajak rotari tipe kebun berpenggerak
sendiri (self propelled garden type rotary plow). Alat ini terdapat pada
traktor-traktor roda 2. Bajak rotari digerakkan oleh daya penggerak traktor
melalui rantai atau sabuk. Dapat juga langsung dipasang pada as roda, sehingga
disamping mengolah tanah bajak ini juga berfungsi sebagai penggerak
3.1.3 Stop Watch
Stopwatch adalah alat yang digunakan untuk mengukur
lamanya waktu yang diperlukan
dalam kegiatan, Untuk contoh : Berapa lama sebuah Mobil dapat mencapai
jarak 60Km, atau berapa waktu yang dibutuhkan seorang pelari dapat mencapai
jarak 100 meter. Stopwatch secara khas dirancang untuk memulai dengan menekan
tombol diatas dan berhenti sehingga suatu waktu detik ditampilkan sebagai waktu
yang berlalu. Kemudian dengan menekan tombol yang kedua kemudian memasang lagi
stopwatch pada nol. Tombol yang kedua juga digunakan sebagai perekam waktu.
Catatan : dalam praktikum kami menggunakan HP.

Gambar 6.Stopwatch
3.1.4 Meteran
Meteran adalah alat yang
digunakan untuk mengukur berapa Panjang dan lebarnya lahan yang
akan di bajak,

Gambar 7.Meteran
3.1.5 Gelas Ukur
Fungsi gelas ukur untuk memasak hampir
sama dengan timbangan. Bedanya, gelas ukur dipakai untuk benda cair, sedangkan
timbangan lebih sering digunakan untuk benda padat. Meski begitu, gelas ukur
juga berguna untuk mengukur takaran benda padat. Nah, benda padat yang dimaksud
di sini adalah yang berbentuk bubuk. Misalnya gula, tepung, dan beras.

Gambar 8.Gelas ukur
3.1.6 Cangkul
Cangkul adalah satu jenis alat tradisional yang digunakan
dalam pertanian. Cangkul
digunakan untuk menggali, membersihkan tanah dari rumput ataupun untuk
meratakan tanah. Cangkul masih digunakan hingga kini. Pekerjaan yang lebih
berat biasanya menggunakan bajak.

Gambar 9.Cangkul
3.1.7 Patok
Patok Adalah suatu benda yang biasa didapat dari kayu kayu
yang sudah kering yang penting masih kuat, dan bias digunakan untuk menandai
lahan yang akan di buat bedengan.

Gambar 10. Patok
3.1.Lahan
Tanah / lahan merupakan
suatu sistem yang dinamis, tersusun dari empat bahan utama yaitu bahan mineral,
bahan organik, air dan udara. Bahan-bahan penyusun tanah tersebut berbeda
komposisinya untuk setiap jenis tanah, kadar air dan perlakuan terhadap tanah.
Sebagai suatu sistem yang dinamis, tanah dapat berubah keadaannya dari waktu ke
waktu, sesuai sifat-sifatnya yang meliputi sifat fisik, kimia, dan sifat
mekanis, serta keadaan lingkungan yang keseluruhannya menentukan produktifitas
tanah. Pada tanah pertanian, sifat mekanis tanah yang terpenting adalah reaksi
tanah terhadap gaya-gaya yang bekerja pada tanah, dimana salah satu bentuknya
yang dapat diamati adalah perubahan tingkat kepadatan tanah
3.2
Bahan
3.2.1
Varietas tanaman jagung
3.2.2
Pupuk Kandang
3.2.3
Pupuk NPK
BAB IV
PROSEDUR KERJA
4.1 Prosedur Umum
4.1.1 Cara Menghidupkan Traktor 2 Roda
Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah penting dalam
menghidupkan dan mematikan traktor tangan, beserta tujuannya:
- Tuas kopling utama diposisikan “OFF” atau “rem”, sehingga traktor tidak berjalan pada saat dihidupkan.
- Untuk keamanan, semua tuas persneleng pada posisi netral.
- Buka kran bahan bakar, sehingga terjadi aliran bahan bakar ke ruang pembakaran.
- Gas dibesarkan pada posisi “start”, sehingga ada aliran bahan bakar (solar) yang cukup banyak di ruang pembakaran.
- Tuas dekompresi ditarik dengan tangan kiri, untuk menghilangkan tekanan di ruang pembakaran pada saat engkol diputar.
- Engkol dimasukkan ke poros engkol, lalu putar engkol searah jarum jam beberapa kali, agar oli pelumas dapat mengalir ke atas melumasi bagian-bagian traktor. Biasanya dilengkapi dengan indikator, untuk menunjukkan adanya aliran pelumas.
- Percepat putaran engkol, sehingga akan menghasilkan cukup tenaga untuk menghidupkan motor.
- Lepaskan tuas dekompresi, untuk menghasilkan tekanan, sementara engkol masih tetap diputar sampai motor hidup.
- Setelah motor hidup, engkol akan terlepas sendiri dari poros engkol. Hal ini disebabkan bentuk pengait engkol yang miring.
- Geser posisi tuas gas pada posisi “idle” atau stasioner Hidupkan motor tanpa beban kurang lebih selama 2-3 menit, agar proses pelumasan dapat berjalan dengan baik.
- Traktor siap di operasikan.
4.1.2 Cara Menghidupkan Traktor 4 Roda
Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah penting dalam
menghidupkan dan mematikan traktor tangan, beserta tujuannya:
a.
Naik ke
traktor dengan posisi maju, karena sekalian melihat bagian pengendali. Hati
-hati tidak boleh menyentuh bagian pengendali, baik tangan maupun kaki.
b.
Duduklah
yang baik di tempat duduk, karena seluruh anggota badan, diperlukan untuk
mengendalikan traktor.
c.
Semua
saklar diposisikan “OFF”, untuk menghemat strom accu pada saat kunci kontak
pada posisi “ON”
d.
Semua tuas
dan pedal netral. Sehingga pada saat traktor dihidupkan, seluruh peralatan
traktor tidak berjalan.
e.
Masukkan
kunci kontak dan putar ke kanan ke arah “ON”
f.
Lihat,
apakah lampu indikator pengisian accu dan indicator sirkulasi oli pelumas
menyala.
g.
Putar
kunci kontak ke kanan ke arah “PREHEAT” selama kurang lebih 10 – 20 detik. Atau
sampai indikator pemanas mesin berpijar, sebagai tanda ruang pembakaran sudah
cukup panas. Dengan panasnya ruang pembakaran, akan mempermudah terjadinya
proses pembakaran.
h.
Injak
penuh pedal kopling, untuk menjaga agar traktor tidak berjalan pada saat
distater.
i.
Geser tuas
gas pada posisi “START” atau gas tinggi.
j.
Putar
kunci kontak ke kanan penuh ke arah “START”, sehingga motor stater akan memutar
motor penggerak.
k.
Setelah
motor hidup, segera lepaskan kunci kontak, sehingga kunci kontak secara
otomatis kembali ke posisi “ON”. Untuk mematikan motor stater.
l.
Setelah
motor hidup, lampu indikator pengisian accu dan indikator sirkulasi oli pelumas
mati.
m. Kecilkan posisi gas ke idle
n.
Lepaskan
pedal kopling pelan-pelan
4.1.3 Cara Mematikan Traktor 2 Roda
Berikut
ini adalah cara mematikan traktor roda dua :
a.
Lepaskan
beban motor.
b.
Kecilkan
gas pada posisi “idle” atau stasioner, sehingga putaran mesin akan pelan,
selama 2-3 menit.
c.
Geser tuas
gas pada posisi “stop”, hingga motor mati karena tidak ada aliran bahan bakar
ke ruang pembakaran.
d.
Tutup kran
bahan bakar
4.1.4
Cara Mematikan Traktor 4 Roda
Berikut
ini adalah cara mematikan traktor roda empat :
a.
Lepaskan
beban motor.
b.
Kecilkan
gas pada posisi “idle” atau stasioner, sehingga putaran mesin akan pelan,
selama 1 menit.
c.
Netralkan
seluruh bagian pengendali, tuas hidrolik pada posisi turun.
d.
Geser tuas
gas pada posisi “stop”, hingga motor mati karena tidak ada aliran bahan bakar
ke ruang pembakaran.
e.
Setelah
motor mati, putar kunci kontak ke posisi “OFF”, lalu cabut.
f.
Pasang
pengunci rem sebelum meningalkan traktor
4.1.5
Cara Mengoprasikan Traktor 2 Roda
Berikut
ini akan di jelas kan cara mengoperasikan traktor dua roda secara singkat:
1.
Memulai
menjalankan traktor tangan
- Posisi gas digeser sedikit lebih besar dari posisi idle.
- Gigi persneleng dipindah ke posisi jalan (1,2,3 atau R). Untuk menarik implemen, jangan menggunakan gigi tinggi, agar operator tidak perlu lari
- Untuk menarik trailer, posisi stang kemudi diturunkan, agar tidak terjadi hentakan ke bawah pada saat traktor mulai jalan.
- Tuas kopling utama dilepas dengan tangan kiri pelan-pelan agar traktor tidak meloncat pada saat mulai jalan.
- Khusus untuk traktor yang menarik trailer, setelah traktor mulai jalan, stang kemudi bisa diangkat lagi
2.
Menjalankan
lurus ke depan
- Lakukan langkah “mulai menjalankan traktor tangan”
- Pada saat traktor berjalan, kedua tangan berada padastang kemudi.
- Mata memandang ke depan.
- Gas diperbesar dengan ibu jari kanan sesuai keinginan.
- Jangan membelokkan stang kemudi
- Jangan memindah posisi gigi persneleng
3.
Menghentikan
traktor/parker
- Gas dikecilkan pada posisi idle.
- Tuas kopling utama ditarik pada posisi “OFF”. Lalu ditarik kembali pada posisi rem.
- Persneleng dinetralkan.
- Gas dikecilkan
4.
Mengganti
gigi persneleng
- Lakukan langkah menghentikan traktor
- Posisi kopling utama “OFF”.
- Pindahkan posisi gigi persneleng.
- Mulai menjalankan traktor lagi.
Catatan:
Pada saat perpindahan gigi persneleng, traktor harus dalam posisi berhenti,
karena biasanya traktor tidak dilengkapi dengan sinkronmes
5.
Membelokkan
traktor pada jalan datar
- Gas dikecilkan sebelum traktor dibelokkan.
- Tekan kopling kemudi kiri kalau mau belok ke kiri. Tekan kopling kemudi kanan kalau mau belok ke kanan.
- Kalau perlu tangan membantu menggeser stang kemudi.
- Pada saat mulai membelok jangan terlalu ke tepi, karena untuk haluan trailer.
4.1.6
Cara Mengoprasikan Traktor 4 Roda
1.
Memulai
menjalankan traktor roda empat
- Lakukan langkah menghidupkan traktor
- Posisi gas digeser sedikit lebih besar dari posisi idle.
- Tuas rem parkir dilepas
- Pedal kopling diinjak penuh
- Tuas persneleng cepat lambat dibindah ke posisi “cepat” atau “lambat”
- Tuas persneleng utama dipindah ke posisi jalan (1,2,3 atau R).
- Pedal kopling utama dilepas pelan-pelan agar traktor tidak meloncat pada saat mulai jalan.
2.
Menjalankan
lurus ke depan
- Lakukan langkah “mulai menjalankan traktor roda empat”
- Pada saat traktor berjalan, kedua tangan berada pada kemudi. Posisi ibu jari keluar.
- Mata memandang ke depan.
- Gas diperbesar untuk mempercepat jalannya traktor sesuai keinginan.
- Kedua kaki dipindah ke landasan, jangan di pedal gas, kopling atau rem.
- Jangan membelokkan stang kemudi
- Jangan memindah posisi gigi persneleng
3.
Menghentikan
traktor
- Gas dikecilkan pada posisi idle untuk mengurangi kecepatan
- Injak pedal kopling sehingga posisi transmisi terlepas
- Injak pedal rem, traktror akan berhenti.
- Persneleng utama dan persneleng cepat lambat dinetralkan.
4.
Menjalankan
lurus ke belakang.
- Lakukan langkah “mulai menjalankan traktor roda empat”
- Badan diputar ke kiri atau ke kanan sedikit untuk melihat ke belakang.
- Pada saat traktor berjalan, kedua tangan berada pada kemudi.
- Mata memandang ke belakang.
- Gas diperbesar untuk mempercepat jalannya traktor sesuai keinginan.
- Jangan membelokkan stang kemudi
- Jangan memindah posisi gigi persneleng
5.
Mengganti
gigi persneleng
- Lakukan langkah menghentikan traktor
- Pindahkan posisi gigi persneleng sesuai kecepatan yang diinginkan.
- Mulai menjalankan traktor lagi.
Catatan:
Pada saat perpindahan gigi persneleng, traktor harus dalam posisi berhenti,
karena biasanya traktor tidak dilengkapi dengan sinkronmes
6.
Membelokkan
traktor di jalan
- Gas dikecilkan sebelum traktor dibelokkan.
- Biarkan setengah badan traktor melewati belokan
- Putar stir kemudi ke kanan atau ke kiri
- Pada saat mulai membelok jangan terlalu ke tepi, karena untuk haluan.
7.
Melewati
tanjakkan
- Gigi persneleng dipindah ke posisi rendah sebelum melewati tanjakkan.
- Jalankan traktor, lalu gas diperbesar secara pelan-pelan, untuk mencegah roda depan terangkat
- Tidak boleh memindah gigi persneleng pada saat menanjak
4.2
Proses Bajak Singkal Traktor 2 Roda
Berikut
ini adalah proses bajak singkal traktor roda dua :
·
Untuk langkah pertama pasang bajak singkal pada trakor roda
dua.
·
Hidupkan mesin traktor.
·
Pada saat akan melakukan pengolahan traktor harus ditekan
secara perlahan dan kuat supaya hasil bajakan maksimal
4.2.1 Proses Bajak Rotari Traktor 2 Roda
·
Untuk langkah pertama pasang bajak Rotary pada trakor roda
dua.
·
Hidupkan mesin traktor.
·
Pada saat akan melakukan pengolahan traktor harus ditekan
secara perlahan dan kuat supaya hasil bajakan maksimal
4.3
Proses Bajak Singkal Traktor 4 Roda
- langkah pertama ialah mengecek traktor baik dari segi mesin atau pun kelayakan, isi minyak apabila sudah habis, periksa ban dan lain2
- nyalakan mesin traktor 4 roda, perhatikan apabila mw jalan di aspal angkat tuas hidrolik supaya bajak tidak terkena tanah
- setelah traktor sampai di lading yang akan mw di olah turunkan kembali tuas hidrolk agar bajak singkal turun
- pengolahan tanah siap dilakukan.
4.4
Proses Pembuatan Bedengan
- Dalam proses pembuatan bedengan ini langkah pertama yang harus dilakukan adalah pengukuran tanah yang akan dibuat bedengan.
- Kemudian tanah di cangkul sedikit demi sedikit dengan mematok pada tali raffia agar bedengan tetap lurus
- Setelah 3 minggu bedengen diberikan pupuk kandang kemudian diratakan dengan menggunakan cangkul.
- Bedengan siap digunakan untuk budidaya tanaman jagung
4.5 Penanaman jagung
Lahan diolah terlebih dahulu dengan
menggunakan bajak singkal,da selanjutnya dilakukan pengolahan tanah kedua
dengan menggunakan bajak rotary,dan selanjutnya lahan diukur untuk membuat
bedengan sepanjang 20 meter dan lebar 4 meter, lalu dilakukan pemupukan denga
menggunakan pupuk kandang sebanyak 6-10 karung,dan selanjutna dilakuka
penanaman komoditi jagung, jarak tanam yang dilakukan pada praktikum ini adalah
20 cm dan 1 lobang ditanam 1 benih jagung,
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data
Hasil Pengamatan
|
No
|
Pengamatan
|
Hand Traktor
|
Mini Traktor
|
|
|
Singkal
|
Rotary
|
Singkal
|
||
|
1
|
LebarBajakan
|
0.33
m
|
0.9
|
0.2
m
|
|
2
|
Kecepatan
|
0.04
m/s
|
0.24
m/s
|
0.27
m/s
|
|
3
|
KLT
|
0.04
m2/s
|
0.08
m2/s
|
|
|
4
|
LuasLahan
|
25
m2
|
200
m2
|
131.75
m2
|
|
5
|
WaktuKerja
|
0.16
jam
|
0.22
jam
|
|
|
6
|
KLE
|
0.02 ha/jam
|
0.09
ha/jam
|
|
|
7
|
BahanBakarTerpakai
|
80
lt/ha
|
40
lt/ha
|
|
|
8
|
5
putaranRodaFraksi
|
-
|
-
|
-
|
|
-saatpengolahan
|
4
m
|
11.90
|
9.4
|
|
|
-TanpaBeban
|
12.20
m
|
11.70
|
10.5
|
|
|
9
|
SI
|
70 %
|
-2 %
|
|
Tabel.
1
5.1. Traktor 2 Roda
a.
Bajak Singkal
5.1.1a
Kapasitas Lapangan Teoritis (KLT)
Untuk
mencari Kapasitas Lapangan Teoritis (KLT) digunakan persamaan berikut:
KLT
= 0.36 (V x LP)
Keterangan:
KLT : Kapasitas Lapangan Teoritis (ha/jam)
V : Kecepatan rata-rata (m/detik)
LP : Lebar Bajakan (m)
Berdasarkan
hasil pengamatan didapati perhitungan KLT sebagai berikut:
KLT = 0.36 (V x LP)
= 0.36 (0.35 m/s x 0.33 m)
= 0.04 m2/s
5.1.2.aKapasitas
Lapangan Efektif (KLE)
Dalam menentukan KLE digunakan persamaan
di bawah ini:
KLE
= 
Keterangan:
KLE : Kapasitas Lapangan Efektif (KLE)
L : Luas lahan pengolahan tanah (m)
WK : Waktu Kerja (jam)
Berikut
perhitungan KLE berdasarkan pada data yang telah diperoleh:
KLE
= 
= 
=
156.25 m2/ jam
=
0.015625 ha/jam
=
0.02 ha/jam
5.1.3a
Efisiensi Lapangan (%)
Efisiensi
lapangan dapat dicari dengan persamaan:
Eff = 
Berdasarkan
tabel, maka:
Eff = 
=
50 %
5.1.4a
Bahan Bakar Terpakai (lt/ha)
Persamaan
yang dapat digunakan untuk mencari bahan baker terpakai adalah sebagai berikut:
Keterangan:
BBT =
Bahan Bakar Terpakai (lt/ha)
BB =
bahan bakar yang digunakan untuk mengolah lahan (lt)
L =
luas lahan (ha)
Berdasarkan
data yang diperoleh, maka di dapati bahan bakar yang terpakai adalah sebagai berikut:
= 
=
80lt/ha
5.1.5a
Slip Roda Traksi (%)
Untuk
menghitung slip roda traksi digunakan persamaan berikut:
Keterangan:
SI :
Slip roda traksi
Sb :
jarak tempuh traktor saat pengolahan tanah dalam lima putaran roda traksi (m)
So :
jarak tempuh traktor tanpa beban (tanpa mengolah tanah) dalam lima putaran roda
traksi (m)
Perhitungan matematis nya sebagai berikut:
= 
= 0.7x 100%
= 70
%
b.
Bajak Rotary
5.1.1.bKapasitas
Lapangan Teoritis (KLT)
Untuk
mencari Kapasitas Lapangan Teoritis (KLT) digunakan persamaan berikut:
KLT
= 0.36 (V x LP)
Keterangan:
KLT : Kapasitas Lapangan Teoritis (ha/jam)
V : Kecepatan rata-rata (m/detik)
LP : Lebar Bajakan (m)
Berdasarkan
hasil pengamatan didapati perhitungan KLT sebagai berikut:
KLT = 0.36 (V x LP)
= 0.36 (0.24 m/s x 0.9 m)
= 0.08 m2/s
5.1.2b
Kapasitas Lapangan Efektif (KLE)
Dalam menentukan KLE digunakan persamaan
di bawah ini:
KLE
= 
Keterangan:
KLE : Kapasitas Lapangan Efektif (KLE)
L : Luas lahan pengolahan tanah (m)
WK : Waktu Kerja (jam)
Berikut
perhitungan KLE berdasarkan pada data yang telah diperoleh:
KLE
= 
= 
=
869.56 m2/ jam
=
0.086956 ha/jam
=
0.09 ha/jam
5.1.3b Efisiensi Lapangan (%)
Efisiensi
lapangan dapat dicari dengan persamaan:
Eff = 
Berdasarkan
tabel, maka:
Eff = 
=
112.5 %
5.1.4b
Bahan Bakar Terpakai (lt/ha)
Persamaan
yang dapat digunakan untuk mencari bahan baker terpakai adalah sebagai berikut:
Keterangan:
BBT =
Bahan Bakar Terpakai (lt/ha)
BB =
bahan bakar yang digunakan untuk mengolah lahan (lt)
L =
luas lahan (ha)
Berdasarkan
data yang diperoleh, maka di dapati bahan bakar yang terpakai adalah sebagai berikut:
= 
=
40lt/ha
5.1.5b
Slip Roda Traksi (%)
Untuk
menghitung slip roda traksi digunakan persamaan berikut:
Keterangan:
SI :
Slip roda traksi
Sb :
jarak tempuh traktor saat pengolahan tanah dalam lima putaran roda traksi (m)
So :
jarak tempuh traktor tanpa beban (tanpa mengolah tanah) dalam lima putaran roda
traksi (m)
Perhitungan matematisnya sebagai berikut:
= 
= - 0.02x 100%
=- 2 %
5.2
Traktor
4 Roda
5.2.1KapasitasLapanganTeoritis (KLT)
Untuk
mencari Kapasitas Lapangan Teoritis (KLT) digunakan persamaan berikut:
KLT
= 0.36 (V x LP)
Keterangan:
KLT : Kapasitas Lapangan Teoritis (ha/jam)
V : Kecepatan rata-rata (m/detik)
LP : Lebar Bajakan (m)
Berdasarkan
hasil pengamatan didapati perhitungan KLT sebagai berikut:
KLT = 0.36 (V x LP)
= 0.36 (0.27 m/s x 0.2 m)
= 0.02 m2/s
5.2.2
KapasitasLapanganEfektif
(KLE)
Dalam menentukan KLE digunakan persamaan
di bawah ini:
KLE
= 
Keterangan:
KLE : Kapasitas Lapangan Efektif (KLE)
L : Luas lahan pengolahan tanah (m)
WK : Waktu Kerja (jam)
Berikut
perhitungan KLE berdasarkan pada data yang telah diperoleh:
KLE
= 
= 
=
357.14 m2/ jam
=
0.035714 ha/jam
=
0.045.
5.2.3 Efisiensi Lapangan (%)
Efisiensi
lapangan dapat dicari dengan persamaan:
Eff = 
Berdasarkan
tabel, maka:
Eff =
x 100 %
=
200 %
5.2.4
BahanBakarTerpakai
(lt/ha)
Persamaan
yang dapat digunakan untuk mencari bahan baker terpakai adalah sebagai berikut:
Keterangan:
BBT =
Bahan Bakar Terpakai (lt/ha)
BB =
bahan bakar yang digunakan untukmengolah lahan (lt)
L =
luas lahan (ha)
Berdasarkan data yang diperoleh,
maka di dapati bahan bakar yang terpakai adalah sebagai berikut:
= 
=
25lt/ha
5.2.5
Slip
Roda Traksi (%)
Untuk
menghitung slip roda traksi digunakan persamaan berikut:
Keterangan:
SI :
Slip roda traksi
Sb :
jarak tempuh traktor saat pengolahan tanah dalam lima putaran roda traksi (m)
So :
jarak tempuh traktor tanpa beban (tanpa mengolah tanah) dalam lima putaran roda
traksi (m)
Perhitungan matematisnya sebagai berikut:
= 
=
- 10 %
PEMBAHASAN
5.1 Traktor 2 Roda
Traktor roda dua merupakan sumber tenaga tarik mekanis yang dominan yang
dipergunakan oleh petani di Indonesia karena cocok untuk luas lahan yang
dimiliki petani pada umumnya kecil –kecil yaitu dibawah 0,5 hektar.
5.1.1 Kapasitas Lapang
Teoritis (KLT)
Nilai hasil pengkalian antara nilai kecepatan kerja teoritis dengan
lebar kerja teoritis alat pengolah
tanah.
5.1.2 Kapasitas Lapang
Efektif (KLE)
Kapasitas lapang yang diukur berdasarkan luas hasil kerja dibagi dengan
waktu yang dibutuhkan dilapangan.
5.1.3 Efisiensi Lapangan
(%)
Efisiensi merupakan hasil perhitungan dari kapasitas lapang efektif
dibagi dengan kapasitas lapang teoritis yang dikali dengan 100 %.
5.1.4 Bahan Bakar Terpakai (lt/ha)
Bahan bakar terpakai merupakan
bahan bakar yang digunakan dalam pengolahan tanah dengan mengukur bahan
bakar yang habis terpakai untuk mengolah tanah dalam satuan luas.
5.1.5 Slip Roda Ttraksi (%)
Slip roda traksi merupakan selisih jarak tempuh traktor saat pengolahan
tanah dengan jarak tempuh traktor tanpa beban (tidak mengolah tanah) dalam
putaran roda traksi yang sama.
Langganan:
Postingan (Atom)